CASA | Club Astronomi Santri Assalaam

October 1, 2007

New CASA Blog

Filed under: Laporan

Selanjutnya CASA | Club Astronomi Santri Assalaam sepenuhnya dapat di akses di Blog CASA.

September 13, 2007

Di balik Nishfu Sya’ban

Filed under: Artikel

Pada malam tanggal 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka’bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.

 

 

Gambar: Masjid al-Aqsha di Palestina 

 

Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat salat adalah Ka’bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat salat dari Ka’bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat salat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.

Tetapi setelah Rasulullah saw menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.

 

 

 

Gambar: Masjid an-Nabawi di Madinah 

Karena itu Rasulullah saw berulang kali berdoa memohon kepada Allah swt agar diperkenankan pindah kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, "Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka’bah) yang selama ini mereka gunakan?" Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 143:

 وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنْتَ عَلَيْهَا إلاَّ لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ.

Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…

Dan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah saw memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144.

 

Gambar: Masjidil Haram di Mekah 

Arah qiblat tidak sekedar menghadapkan wajah ke lokasi ka’bah, namun ada makna tersirat yang kita harus ketahui. Barangkali inilah sebagian hikmah dari perpindahan arah qiblatdari Palestina ke Makkah, dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram.

 

 

Hikmah perpindahan arah qiblat antara lain:

1. Karena posisi Ka’bah di Mekkah, dan kota Mekkah di permukaan bumi ini berada di area lintangutara 21d25m, maka ada kemudahan bagi sebgain ummat Islam yang masih melihat cahaya dan bayangan matahari pada saat Istiwaa’ a’dham.

Selengkapnya makna arah qiblat

 

Gambar: Denah Migrasi arah Qiblat 

GBT 28 Ogos 2007

Filed under: Laporan

 

Gerhana Bulan Total (GBT) kembali terjadi pada tanggal 28 Agustus 2007. Menurut kalender astronomi NASA gerhana bulan total kali ini merupakan gerhana seri Saros ke 128 anggota ke 40 dari 71 gerhana yang terjadi serta akhir rangkaian musim gerhana di tahun 2007. Saros adalah masa perulangan rangkaian gerhana selama periode sekitar 18 tahun.

 

Gerhana bulan total kali ini dapat disaksikan setelah matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia. Posisi gerhana kali ini juga sangat menguntungkan untuk disaksikan sebab terjadi pada sore hari dan pada musim kemarau. Ini berbeda dengan peristiwa serupa yang terjadi pada 3 Maret 2007 lalu dimana gerhana bulan terjadi pada pagi hari saat tiba musim hujan.

 

 

 Kecuali Indonesia gerhana juga dapat disaksikan di negara-negara lain. Namun di Timur Tengah dan Afrika seluruh rangkaian gerhana tidak dapat disaksikan karena saat gerhana berlangsung negara ini masih mengalami siang hari. Di benua Amerika gerhana ini dapat disaksikan menjelang pagi. .

 

 

Tahapan Gerhana Bulan Total (GBT) 28 Agustus 2007

Penumbra Mulai (P1) = 14:54 WIB (tidak tampak)
Umbra Mulai (U1) = 15:51 WIB (tidak tampak)
Total Mulai (T1) = 16:52 WIB (tidak tampak)
Bulan Terbit (Moonrise) = 17:36 WIB

Puncak Gerhana = 17:37 WIB
Total Berakhir (T2) = 18:22 WIB
Umbra Berakhir (U2) = 19:24 WIB
Penumbra Berakhir (P2) = 20:21 WIB

( Sumber : SNP)

Terjadinya Gerhana Bulan

Gerhana Bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan wajah bulan yang dalam fase purnama tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

Dengan penjelasan lain, gerhana bulan terjadi bila bulan sedang beroposisi atau bertolak belakang dengan matahari. Tetapi akibat bidang orbit bulan miring terhadap bidang orbit semu matahari (ekliptika), maka tidak setiap oposisi bulan dengan matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan. Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan 2 buah titik potong yang disebut titik node, yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana bulan ini akan terjadi saat bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan waktu sekitar 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka biasanya, jika terjadi gerhana bulan maka akan diikuti dengan gerhana matahari karena kedua titik node tersebut terletak pada garis yang menghubungkan antara matahari dengan bumi.

 

Pada saat peristiwa gerhana bulan total terjadi, seringkali permukaan bulan tidak gelap total dan masih samar-samar dapat terlihat berwarna gelap kemerahan. Ini dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dipantulkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga, jingga, ataupun coklat.

 

Gerhana bulan dapat diamati langsung dengan mata telanjang dan tidak berbahaya sama sekali. Namun demikian akan lebih indah jika ada binokuler atau "keker" atau bahkan teleskop untuk melihatnya lebih dekat sehingga nampak jelas batas antara daerah gelap dan terang di permukaan bulan.

 

Di kalangan Umat Islam peristiwa gerhana merupakan peristiwa alam biasa yang secara astronomis dapat dihitung kapan peristiwanya akan terjadi. Peristiwa gerhana bukan tanda kelahiran atau kematian seseorang namun gerhana merupakan momen merenungkan kembali tanda kemahabesaran Allah SWT, penguasa dan pemelihara langit yang tak pernah lena. Untuk itu Umat Islam memberi makna akan kehadiran gerhana melalui ibadah berupa shalat gerhana atau shalat khusuf yang dilakukan secara sendirian maupun berjamaah di masjid-masjid atau mushalla serta memperbanyak takbir dan sedekah. [cara shalat gerhana]

.”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua macam tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukan karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka jikalau kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bershalatlah.”

( HR. Bukhari - Muslim )

 

 

 

Sumber :

Starrynight Software , NASA , Wikipedia , JAC

Sholat Khusuf:

gbt2880718-16.jpg

JUMHUR Ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari adalah sunnah dan dilakukan secara berjamaah. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang tata cara pelaksanaanya, bacaan, waktu dan apakah khotbah merupakan syarat ataukah tidak. Juga apakah gerhana bulan memiliki hukum yang sama dengan gerhana matahari.

Dari A’isyah ra berkata: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama khalayak. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul.
(Muttafaq alaih. HR Bukhori-1212 dan 4624, Muslim 901, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah.)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah, maka apabila kalian melihat gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, lalu sholatlah sehingga hilang dari kalian gelap, dan bersedekahlah”. (HR. Bukhori-Muslim)

Melihat dhohirnya hadits di atas, maka sholat khusuf (Gerhana Bulan) juga sunnah dan dilaksanakan sabagaimana sholat kusuf (gerhana matahari).

Di PPMI Assalaam seluruh santri melakukan sholat khusuf (Gerhana Bulan) di masjid Assalaam dengan Imam dan khotib, ustadz budi Prasetyo, S.Ag. Cuaca cukup cerah sehingga pemandangan bulan yang mulainampak bagian bawahnya sangat jelas terlihat. (maaf, foto karya anak2 di atas gerak shg kurang fokus).

sholat khusuf

sholat khusuf di masjid Assalaam

 Sholat dimulai selepas sholat maghrib, dan setelah sholat khusuf dilanjut dengan khotbah gerhana. Dalam khotbahnya ustadz Budi menyampaikan pesan, bahwa Gerhana adalah kejadian alami dan biasa serta selalu diulang di alam ini. Allah maha menentukan apapun, kalau memang cahaya bulanmau dihilangkan sekalipun, cahaya matahari dihilangkan sejalipun, Allah pasti mamapu.
Gerhana tidak ada kaitannya dengan mati atau hidupnya seseorang. Juga tidak boleh dikait-kaitkan dengan banyaknya musibah di Indonesia atau apapun namanya. Justru yang penting, kita wajib mengimani bahwa Allah telah ciptakan sebegitu banyak bintang dan benda langit lainyya. Bersyukurlah, bertobatlah, dan banyaklah berbuat baik di alam ini…karena tidak satupun benda di angkasa yang menentang kehendak Allah SWT.
Usai sholat khusuf, selanjutnya para santri disuguhi tontonan alam semesta live GBT dalam bentuk layar raksasa. Melalui visualisasi komputer, proses terjadinya gerhana bisa dimundurkan dan dimajukan.

 

Acara bertajuk "Bringing Astronomi to The Student" yang mengupas perjalan bulan hingga terjadi Gerhana baik sebagian maupun total berakhir saat dikumandangkannya adzan Isyaa. Selepas sholat Isyaa, mereka melihat langsung pemandangan GBT di alam sembari pulangke kamar.

 

Di depan Gelora, sekitar jam 19:24 WIB pemandangan GBT sudah mulai tampak sangatterang kendati belum semua muka bulan tampak sempurna.

 Malam itu pula acara rutin di PPMI Assalaam adalah pengajian rutin pegawai. Malam ini pembicara adlah Ustadz Sobari, pakar Falak Muhammadiyah Solo. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa Gerhana di era dulu, dijadikan tradisi yang membuat ilmu mati. Sebagai misal, bagi ibu hamil, makak bila ada Gerhana, dia harus mandi lalu menginjak abu, lalu masuk ke bawah kolong tempat tidur. Aneh…. itu jaman dulu.

 

Di tempat terpisah, teman JAC, Corona, CASAC dan MUGADETA melakukan sholat gerhana di top floor Shapir Hotel Yogyakarta yang dilanjutkan observasi.

Ada beberapa hal menyangkut sholat gerhana, antara lain sebagai berikut:

1. Tata cara sholat:
Maliki, Syafi’i dan Ahmad serta mayoritas penduduk Hijaz berpendapat bahwa sholat gerhana dengan dua rokaat dengan dua kali ruku’. Sedang Abu Hanifah dan penduduk kufah, menyatakan seperti sholat Id dan Jum’at.

Dalil:
Dari A’isyah ra berkata: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama khalayak. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul.
(Muttafaq alaih. HR Bukhori-1212 dan 4624, Muslim 901, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dalam hadits lain juga oleh Ibnu Abbas, dengan muatan matan serupa, yakni dua rokaat dengan dua kali ruku’. Abu Umar berkata ini hadits gerhana paling shahih.

2. Bacaan :
Malik dan Syafi’i berpendapat pelan, sementaraa Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan dan Ishak bin Rahawaih berpendapat keras. Berdasar hadits di atas maka bacaan sholat gerhana itu keras atau jahr.

Di era digital, seperti sekarang ini, kita akhirnya memahami pula mengapa sholat gerhana memiliki kekhususan ketimbang sholat wajib dan umumnya sholat sunnah lainnya. Keistimewaan tersebut dalah terletak pada bilangan ruku’ pada setiap roka’atnya. Seperti yang kita tahu, dua kali ruku’ di setiap roka’at, adalah serasa aneh. Apalagi sunnahnya harus…lama…sehingga bacaan tasbihnya mestilah panjang dan berulang-ulang.

Inilah salah satu mukjizat kebenaran Islam. Salah satu sifat wajib Rasul adalah ‘Fatonah’. Fatonah artinya Rasulullah SAW harus memiliki kecerdasan, bahasa kita sekarang ‘jenius’ lah. Lalu dimana letak kejeniusan Rasulullah SAW..? Ya…salah satunya di tata cara sholat gerhana ini. Beliau ajarkan sholat khusuf dengan dua kali ruku’ per roakaat dan beliau juga ajarkan ruku’nya yang lama. Ruku’ lama artinya membaca tasbih berulang-ulang.

rukuu

1. Ruku’ dua kali per rokaat:

Perhatikan gambar di atas. Orang ruku’ artinya sedang membentuk sudut siku. Dalam matematika, sudut siku besarnya adalah 90 derajat. Arti dari ruku’ dua kali adalah, 90 derajat x 2 = 180 derajat. Arti dari 180 derajat adalah, saling segaris lurus. Jadi bukankah saat terjadinya fenomena gerhana, baik matahari maupun bulan, kesemuanya saling segaris lurus.

Pada Gerhana Matahari, posisi bulan di tengah-tengah, antara matahari dan bumi.

skema gerhana matahari

Pada saat Gerhana Bulan, posisi bumi berada di tengah-tengah, antara matahari dan bulan.

skema gerhana bulan

2. Membaca Tasbih berulang-ulang (banyak).

Tasbih berasal dari kata dasar sabaha artinya berenang. Tasbih berarti gerak yang dinamis. Hakekat dari seluruh materi di alam semesta ini adalah bergerak, ber-rotasi dan ber-revolusi. Salah tiga dari materi alam semesta adalah Matahari, Bumi dan Rembulan. Rembulan atau Bulan ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Bumi. Bumi ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Matahari. Matahari ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Black Hole di pusat Bimasakti. Dan begitu seterusnya.

galaksi bimasakti

Ternyata memang sifat wajib rasul tak sekedar jadi hafalan anak-anak sekolah, namun itulah mukjizat…

“Wamaa yantiqu ‘anil hawaa…in huwa illa wahyun yuuhaa…”. QS. An-Najm (53):3-4.[+]

August 16, 2007

Hilal Sya’ban 1428 H

Filed under: Laporan

CASA melakukan observasi Hilal Sya’ban 1428 H. CASA Putra di masjid lantai 2 sementara CASA Putri di lapangan kompleks barat. Bersyukur karena Hilal 2 Sya’ban ini saat maghrib setinggi 15 derajat. Awalnya, hanya terlihat oleh anak yang peka pandangannya. Cukup dengan mata telanjang, hilal saat itu tampak segaris-putih.

Maka begitu agak petang, semakin jelaslah penampakan Hilal kali ini. Sebuah pengalaman yang pertama bagi anak2 CASA melihat hilal tgl 2 bulan sya’ban kali ini.

Hilal 1 Sya’ban memang sulit terlihat bahkan mustahil, karena ketinggian di bawah limit Danjon. Dan rekan2 JAC di Parangkusumo sekalipun juga gagal melihatnya di awal Sya’ban ini.

Selanjutnya persiapan yang penting untuk kita lakukan di bulan Sya’ban ini di antaranya adalah pendalaman ilmu tentang ibadah diseputar Ramadhan, persiapan mental dan tekad, persiapan fisik dan kesehatan, serta persiapan ruhiyah dan spiritual dengan melakukan berbagai ibadah sunah. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan,

وَلَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَان قَال: ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فيه الأَعْمَالُ إلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ (رواه أحمد وأبو داود وابن حزيمة والنسائى )

Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban”. Rasul saw bersabda: ”Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)

"Allaahumma baariklanaa fi Sya’ban wa ballighnaa Ramadhana"

Ya Rabb, berkahi kami pada bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan, ..Amien3x.

July 11, 2007

Sejarah Ilmu Falak

Filed under: Artikel

Ilmu falak dikenal juga sebagai Ilmu Bintang atau Ilmu Astronomi, kata Falak bererti jalan/lintasan/peredaran yakni peredaran bintang-bintang.

Dalam surah Yaasin ayat 40 disebut bahawa: “(Dengan ketentuan yang diberikan oleh Allah) Matahari tidak mudah baginya mengejar bulan dan malam pula tidak dapat mendahului siang kerana tiap-tiap satunya beredar terapung-apung di tempat edarannya masing-masing”.

Pada zaman dahulu ilmu falak dikenal juga dengan Ilmu Nujum yang digunakan untuk meramal berlakunya peristiwa atau nasib. Di kalangan Sarjana Islam, Ilmu Bintang dibagi dua bagian yaitu :

1) Ilmu Tabi’ie (sains) yang membahas kedudukan bintang-bintang, pergerakannya dan ketentuan-ketentuan gerhana matahari dan bulan.

2) Ilmu yang membahas perhubungan pergerakan bintang-bintang dengan kelahiran, kematian, kebahagiaan dan kecelakaan, hujan, kesehatan dan lain-lain.

Ilmu yang pertama tadi dinamakan ilmu falak (Astronomi) dan ilmu yang kedua dinamakan Ilmu Astrologi (tanjim/nujum). Secara umum ilmu falak boleh diartikan sebagai ilmu yang membicarakan tentang matahari dan bintang-bintang yang beredar, besar kecilnya, jauh dekatnya dari matahari atau juga tentang cakrawala langit, gaya yg bekerja padanya, kedudukan pergerakannya dan lain-lain fenomena yang berkaitan.

Orang-orang Arab pada zaman dahulu pun mengetahui kedua bidang ilmu ini bahkan sejak zaman Jahiliah. Mereka memperolehi ilmu ini dari Yunani/Greek, Parsi, India dan Kaldan. Kemudian ilmu ini diwariskan kepada orang-orang Islam setelahnya.

Umat Islam pertama kali terlibat secara aktif dibidang Ilmu Sains termasuk ilmu falak pada zaman Kerajaan Umaiyah dan Abbasiah. Di zaman Umaiyah tokoh ilmu falak yang terkenal ialah Khalid bin Yazid Al-Amawi (meninggal 85H). Beliau dikenal dengan nama Hakim Ali Marwan. Beliau dianggap orang pertama yang menterjemahkan buku-buku termasuk buku-buku mengenai ilmu Bintang pada pertengahan kurun ke-4 Hijrah didapati dalam Perpustakaan Kaherah sebuah globe dari tembaga karya Batlamus yang ditulis kata-kata bahwa globe itu disediakan untuk Khalid bin Yazid.

Menurut pakar sejarah Al-Mas’udi bahwa Khalifah al-Malik bin Marwan sangat gemar kepada ilmu bintang sehingga ketika berperang belian membawa ahli ilmu bintang. Di zaman Abbasiah, Khalifah Abu Jaffar Al-Mansor adalah khalifah yang pertama memberi perhatian kepada kajian Ilmu Falak. Baginda mengeluarkan banyak belanja untuk memulai penyelidikan dalam bidang ilmu falak. Baginda mengumpulkan nama sarjana falak yang terkenal di istana Baginda. Dalam pembinaan Kota Baghdad baginda melantik seorang ahli falak bernama Naubakh sebagai Ketua Perancang Proyek itu.

Seterusnya perkembangan kajian ilmu falak berkembang pada zaman khalifah Al-Mansor. Usaha menterjemahkan buku Sdihanta dari bahasa Sanskrit ke Bahasa Arab dilakukan oleh Mohammad Al-Fazari yang kemudian ia diberi judul “Al-Sindhindin Al-Kabir”. Buku ini menjadi panduan utama kepada orang-orang arab dalam mengkaji ilmu falak hingga ke zaman Al-Makmun.

Mohammad Al-Fazari merupakan orang Islam yang pertama mencipta astrolabe (jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang). Buku ini telah disalin ke bahasa Latin pada abad pertengahan oleh Johannes de Luna Hispakusis. Buku terjemahan ini telah digunakan oleh universitas-universitas Eropa untuk mengejar Ilmu Bintang.
Dari sinilah orang-orang Barat pertama kali mengetahui benda-benda di cakerawala.

Tokoh-tokoh Ilmu Falak Islam di zaman Abbasiah ialah Abu Sahl bin Naubakh, Ali bin Isa dan Masyaallah yang dikenal sebagai Phoenix pada zamannya. Dalam proyek pembinaan Kota Baghdad telah didirikan sebuah ‘observatorium’ (balai ilmu). Di zaman Al-Makmun telah muncul ramai sarjana-sarjana Falak antaranya Thabit bin Qurrah, Al-Battani dan Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.

Di zaman Al-Makmun juga telah didirikan sebuah ‘observatorium’ yang digunakan untuk mengukur daya cahaya matahari. Di zamannya juga Ahli Falak berjaya mengukur longkaran bumi sebuah ‘observatorium’ yang didirikan di Bukit Gaisun di Damsyek. Di zamannya juga observatorium juga didirikan di Bukit Qaisun. Di Damsyik. Di zamannya juga telah diterjemahkan Alomagest karangan mengenai Ptolemeus ke bahasa Arab. Ahli Falak Islam juga telah mengamati equinox, gerhana bintang berekor (comet) dan lain-lain gejala di langit.

Di samping itu Al-Battani (wafat kira-kira 930M/317H) telah melakukan penyelidikan tentang perbintangan sejak tahun 877 hingga 918M dan bukunya yang telah disalin ke bahasa Latin disusun semula dalam bahasa Arab oleh Nallino (tahun 1903M). Al-Battani telah membagi sehari kepada 12 jam yang digunakan sekarang oleh tukang-tukang jam di Eropah. Beliau juga telah berjaya mengira setahun bersamaan dengan 356 hari, 5 jam 46 saat dan 24 secant yaitu kurang dalam pengiraan sekarang sebanyak 2 saat 23 secant.

Al-Battani menduduki tempat tertinggi di kalangan Ahli Bintang dan dikatakan peranannya di kalangan umat Islam sama dengan peranan Ptolemeus di kalangan orang-orang Yahudi. Di zaman-zaman seterusnya lahir tokoh-tokoh Islam yang meneruskan kajian-kajian yang dilakukan oleh al-Battani dan tokoh-tokoh lain dan telah menghasilkan berbagai-bagai kejayaan kepada Ilmu Falak.

Tokoh-tokoh Ilmu Falak yang terkenal pada kurun ke-7 Hijrah ialah Nasiruddin al-Tusi yang hidup di zaman Hulagu Khan seorang Raja Monggol. Al-Biruni (362H-442H) pula merupakan seorang ahli Falak yang terkenal di zaman Sultan Mahmud al-Ghaznawi. Beliau telah meninggalkan berbagai-bagai hasil karya yang antara al-Athar al-Baqiah yang diterjemahkan ke bahasa Inggeris oleh Dr. Sachan. Di zaman Kerajaan Turki Saljuk telah muncul seorang sarjana Falak terkenal iaitu Umar al-Khayyam. Kawannya ialah Abdul Rahman al-Hazimi. Sebenarnya kemasyhuran sarjana-sarjana Falak Islam merebak setiap sudut alam. Mereka menjadi tempat rujuk ilmu Falak. Wilayah Islam yang menjadi tumpuan rujukan Eropa ialah wilayah Andalus (Sepanyol) kerana berdekatan dengan mereka.

Fakta di atas adalah semata-mata untuk menunjukkan betapa umat Islam di zaman kegemilangan, telah menumpukan tenaga yang banyak untuk menguasai ilmu-ilmu sains yang hasilnya telah dirasakan oleh seluruh umat manusia. Kejayaan mereka itu adalah menunjukkan betapa Islam telah menjadi suatu sumber utama bukan saja dari segi panduan hidup tetapi juga dari segi Ilmu Pengetahuan. Inilah semangat yang hendak dibangkitkan di kalangan kita umat Islam.

Sumber Tulisan.

July 4, 2007

Tokoh Falak (2)

Filed under: Tokoh


Kyai Hasan Basri Said

GELAR akademis yang sekarang ini dikejar-kejar banyak orang sekolahan ternyata tidak penting bagi Kiai Hasan Basri Said (71), salah seorang kiai yang hingga kini tetap setia mengamati pergerakan benda-benda langit; menggeluti disiplin keilmuan paling unik di pesantren, ilmu falak. Bagi Kiai Hasan Basri, model pendidikan yang berorientasi pada gelar itu tidak akan memberikan kebanggaan apa-apa.

Ilmu yang berorientasi pada gelar dan kelulusan tidak akan bisa dinikmati sebagai ilmu itu sendiri karena pastinya tidak akan ada inovasi; tidak ada penemuan baru. Lihat bagaimana orang sekolahan hanya berputar-putar pada pakem dan target materi yang sudah baku. Lalu lihat bagaimana para sarjana yang hanya bersibuk dengan urusan teknis: bagaimana ilmunya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan penghidupan, mencari dan memperbanyak uang. Bukankan seharusnya sebuah ilmu itu mandiri dan tidak goyak oleh apapun jua, apalagi sekedar uang. Biarkan ilmu itu terus berkembang untuk mencapai suatu peradaban yang setinggi-tingginya.

Dengan bangga Kiai Hasan Basri menunjukkan satu alat teropong bintang yang diciptakannya sendiri, yang mampu mengukur dan mengamati gerak gerik benda langit, juga untuk mengukur arah kiblat. Alat itu terbuat dari rangkaian pipa, termasuk pipa pengintip, dilengkapi dengan penggaris bulat, kompas, benang dan bandulan kecil.

Jika anda melihat dan coba memakai alat itu pasti kesan bahwa orang Indonesia, lebih-lebih orang pesantren, banya bisa memakai dan mengkonsumsi teknologi yang diciptakan oleh Barat itu akan hilang seketika. Sebenarnya kita bisa mencapai peradaban teknologi tinggi seperti Barat namun kita atau pemerintah kita enggan mencobanya. Kita hanya senang mengkonsumsi. Bisa dibayangkan, seharusnya kita tidak butuh waktu lama untuk merubah alat sederhana buatan Kiai hasan Basri menjadi alat modern yang terbuat dari bahan yang lebih awet. Namun proses panjang sebuah keilmuan –dalam hal ini—ilmu falak sehingga mampu menciptakan teropong bintang itu ternyata sudah terlampaui oleh orang-orang pesantren, paling tidak oleh Kiai Hasan Basri.

Maka, hal terpenting ketika seorang mengaku telah ”belajar”, kata Kiai Hasan Basri, adalah bagaimana berperan dalam masyarakat melalui ilmu yang didapat. Ini yang seharusnya dibanggakan. Jadi orang kemudian tidak sekedar mentereng hanya gara-gara bergelar tinggi tapi bagaimana ”hasil belajarnya” dapat berefek kepada dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.

Apa boleh buat. Saat ini orang belajar hanya untuk mencari gelar. Ilmu itu sendiri tidak berarti apa-apa. Lebih-lebih disiplin keilmuan yang dikejar-kejar oleh orang-orang sekolahan hanyalah yang dibutuhkan untuk kepentingan mencari pekerjaan, bukan ilmu yang penting dikembangkan untuk mencapai peradaban tinggi. Ilmu falak atau ilmu astronomi misalnya tidak akan banyak peminat karena tidak menjanjikan pekerjaan yang mentereng, posisi terhormat, atau uang banyak.

Kiai Hasan Basri Said lahir pada 1935 di sebuah kota kecil di daerah Gresik, Jawa Timur. Sejak kecil ia belajar di satu madrasah di daerahnya. Lalu setelah merasa cukup usia ia beranjak ke pesantren Gontor Ponorogo. Di sana dia berdiam selama 6 tahun. Hasan Basri Muda pernah tiga kali menempuh pendidikan tinggi namun tidak pernah lebih dari satu semester. Ia pernah belajar di UII Yogyakarta, lalu ke Kedokteran UNAIR 1 semester, dan lalu ke kedokteran hewan Universitas Brawijaya Malang 1 semester. ”Saya nggeri kalau harus praktek dengan membedah babi,” katanya. Baginya belajar di kampus memang tidak perlu menyita waktu terlalu lama. Setelah merasa cukup mengenyam dunia kampus, ia merantau ke pulau Kalimantan.

Kiai Hasan Basri pernah menjadi sukarelawan di satu klinik yang didirikan organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Gresik. Klinik itu ada mula-mula sebelum kemudian organisasi Islam Muhammadiyah dan yang lainnya juga mendidikan layanan kesehatan di sana. Lalu ia pindah menggeluti dunia koperasi hingga kini. Gaji yang diterimanya dari kantor koperasi lumayan untuk membiayai tiga orang anaknya yang sukarang sudah beranjak besar. Namun di tengah aktivitas apapun, satu yang tidak pernah dia lupakan adalah bahwa dia seorang pecinta ilmu falak.

Dia belajar ilmu falak sejak kecil. Ia pernah belajar kepada Kiai Romli Hasan, seorang pakar ilmu falak di daerah Gresik. Lalu ke daerah Bangil menemui Kiai Mu’thi dan belajar ilmu falak kepadanya. Namun setelah beranjak dewasa semangat untuk menggeluti ilmu falak itu entah kenapa mengendur. Semangat untuk mendalami ilmu falak itu kembali menggebu-gebu pada usianya yang ke-33 tahun, setelah mendapat dorongan dari istri tercinta Marsyadul Ilmi yang 15 tahun lebih muda darinya.

Waktu itu warga daerah setempat membutuhkan seseorang yang bisa mengukur arah kiblat. Kiai Hasan Basri seakan tidak mau tahu. Istrinya yang tahu kemampuan suaminya langsung bergumam, ” Ilmu dari Tuhan, kalau Bapak tidak manfaatkan maka bapak berdosa.” Dorongan istrinya inilah yang membuatnya bersemangat untuk terus menggeluti ilmu falak. Dia tidak ingin menyembunyikan ilmu Tuhan. Lagi pula, istrinya selalu memberikan dukungan agar Kiai Hasan Basri terus mengabdikan dirinya pada ilmu falak. ”Dia rela saya tinggal satu minggu, karena tahu bukan untuk pribadi saya,” kata Kiai Hasan Basri. Patokannya, katanya, ilmu itu tidak untuk dijual, jadi bisa dinikmati dan terus digeluti.

Sumber.

Tokoh Falak (1)

Filed under: Tokoh


Ahmad Dahlan, K.H

Nama kecilnya Muhammad Darwis (ada literatur yang menulis Darwisy), dilahirkan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tahun 1868 Masehi bertepatan dengan tahun 1285 Hijriyah dan meninggal dunia pada tanggal 23 Februari 1923 M/ 7 Rajab 1342 H, jenazahnya dimakamkan di Karangkajen Yogyakarta.

Dalam bidang ilmu Falak ia merupakan salah satu pembaharu, yang meluruskan Arah Kiblat Masjid Agung Yogyakarta pada tahun 1897 M/1315 H. Pada saat itu masjid Agung dan masjid-masjid lainnya, letaknya ke barat lurus, tidak tepat menuju arah kiblat yang 24 derajat arah Barat Laut. Sebagai ulama yang menimba ilmu bertahun-tahun di Mekah, Dahlan mengemban amanat membenarkan setiap kekeliruan, mencerdaskan setiap kebodohan.

Dengan berbekal pengetahuan ilmu Falak atau ilmu Hisab yang dipelajari melalui K.H. Dahlan (Semarang), Kyai Termas (Jawa Timur), Kyai Shaleh Darat (Semarang), Syekh Muhammad Jamil Jambek, dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Dahlan menghitung kepersisan arah kiblat pada setiap masjid yang melenceng. Setelah “tragedi kiblat” di Masjid Agung, ia pun mendirikan organisasi Muhammadiyah. Melalui organisasi Muhammadiyah ia mendobrak kekakuan tradisi yang memasung pemikiran Islam.

Di awal kiprahnya, ia kerap mendapat rintangan, bahkan dicap hendak mendirikan agama baru. Namun keteguhan sikapnya menyebabkan ia dicatat sebagai pelopor pembetulan arah kiblat dari semua surau dan masjid di Indonesia. Tak cuma itu reputasi yang ditorehkannya. Berdasarkan pengetahuan ilmu Falak dan Hisab yang dimilikinya, Dahlan melalui Muhammadiyah, mendasarkan awal puasa dan Syawal dengan Hisab (perhitungan).

Tokoh Falak lainnya…

Hisab-Rukyat: Media Pendidikan Sains Santri

Filed under: Artikel

Setiap menjelang awal Ramadhan, perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri puasa seakan menjadi pertanyaan yang tidak kunjung usai. “Persaingan” antara hisab versus rukyat dalam menentukan awal bulan Hijriah bagaikan menu rutin yang banyak dibicarakan orang.

Disadari atau tidak, permasalahan tersebut merupakan bagian dari kehidupan bangsa ini. Oleh karena itu, memahami akar permasalahan yang ada dapat membantu dalam menentukan sikap.

Hisab yang berarti menghitung dan rukyat yang berarti melihat, dalam arti sempit, merupakan sebuah cara yang digunakan untuk menentukan masuknya awal bulan Hijriah, seperti Ramadhan dan Syawal.

Dalam pandangan masyarakat luas, keduanya merupakan dua metode yang saling bertolak belakang. Padahal, dari sudut pandang astronomi, hisab dan rukyat bagaikan dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Pandangan masyarakat luas tersebut mungkin dikarenakan kedua konsep tersebut digunakan oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dalam pemahaman umum, diakui atau tidak, pendapat/ajaran yang berasal dari kedua ormas tersebut sering kali “bertentangan”.

Sebuah metode

Hisab dalam arti luas dapat diterjemahkan sebagai sebuah metode atau sistem perhitungan yang diperoleh dari penalaran analitik maupun empirik. Sedangkan rukyat dapat diterjemahkan sebagai sebuah pengamatan sistematik yang didasarkan atas data yang ada.

Hisab bukanlah sebuah metode yang muncul secara tiba-tiba. Sebab, adanya hisab diawali dari rukyat yang panjang. Benar tidaknya sebuah hisab tentunya harus diuji secara langsung melalui pengamatan (rukyat) terhadap fenomena alam yang dihisab. Sebagus dan sebaik apa pun sebuah metode hisab, jika tidak sesuai dengan fenomena yang dihisab tentu tidak dapat dikatakan benar.

Demikian juga halnya dengan rukyat. Pelaksanaan rukyat yang tidak pernah menghasilkan sebuah sistem atau metode perhitungan (hisab) yang dapat membantu dalam pelaksanaan rukyat berikutnya merupakan rukyat yang sia-sia. Karena, apa yang dilakukan hari ini tidak lebih baik daripada apa yang pernah dilakukan.

Oleh karena itu, kombinasi hisab dan rukyat merupakan kombinasi harmonis agar ilmu falak di Indonesia dapat berkembang. Sesuai dengan asalnya, ilmu falak—yang tidak lain merupakan bagian dari astronomi—modern saat ini merupakan observational sains.

Sebuah observational sains merupakan sains yang berkembang atas dasar pengamatan. Dengan kata lain, menafikan rukyat—yang notabene merupakan proses pengamatan—bagaikan menghilangkan ruh dari jasad. Hal ini bahkan dapat mengakibatkan ilmu falak menjadi sesuatu yang tidak menarik dan sulit untuk dipahami.

Kecenderungan itu dapat dilihat dari pandangan kaum santri di pesantren, yang umumnya dari kalangan NU, bahwa ilmu falak merupakan ilmu yang sulit dan tidak menarik. Hal ini bisa diakibatkan karena rukyat jarang—bahkan tidak pernah—dipraktikkan kecuali ketika menjelang awal dan akhir Ramadhan.

Pelaksanaan rukyat hilal

Rukyat hilal dilaksanakan setiap tanggal 29 pada bulan Hijriah menjelang matahari tenggelam. Hasil yang diperoleh merupakan penentu masuknya awal bulan baru. Untuk menentukan awal Ramadhan 1427 H, rukyat dilaksanakan pada tanggal 29 Sya’ban 1427 H, bertepatan dengan 22 September 2006.

Jika rukyat memberikan hasil positif, maka pada malam itu telah masuk tanggal 1 Ramadhan 1427 H dan shalat tarawih dapat dilaksanakan. Dan, jika tidak memberikan hasil, maka keesokan harinya adalah tanggal 30 Sya’ban dan awal puasa Ramadhan bertepatan dengan 22 September 2006.

Sayangnya, berdasar data astronomi yang dihasilkan dari metode yang sudah teruji keakuratannya, hilal pada tanggal 22 September 2006 tersebut tidak dapat dirukyat. Hal ini dikarenakan hilal sendiri—yang didefinisikan sebagai sabit pertama yang terlihat setelah konjungsi—belum terbentuk. Hal ini menjadikan tanggal 1 Ramadhan 1427 H bertepatan dengan 24 September 2006.

Senada dengan permasalahan awal Ramadhan 1427 H, hilal awal Syawal juga masih mustahil untuk dirukyat pada 29 Ramadhan 1427 H (22 Oktober 2006). Hal ini bukan dikarenakan hilalnya belum terbentuk, melainkan hilal tersebut berada jauh dari batas kriteria visibilitas yang ada.

Secara teori, hilal memang sudah terbentuk, tetapi posisinya yang sangat dekat (kurang dari 1 derajat) dengan matahari menjadikannya mustahil untuk disaksikan. Oleh karena itu, berdasar visibilitas hilal, dapat diprediksikan bahwa 1 Syawal 1427 H seharusnya bertepatan dengan 24 Oktober 2006.

Pelaksanaan rukyat hilal seperti di atas didasarkan pada tuntunan Nabi Muhammad SAW yang tertuang dalam banyak hadis. Di antaranya adalah perintah dalam mengawali dan mengakhiri puasa bila hilal telah dapat dirukyat. Pengertian rukyat tersebut kemudian berkembang. Sebagian ulama menerjemahkannya dengan rukyat bi ilm alias hisab.

Berdasar pemahaman ini, meski hilal belum terlihat tetapi telah terbentuk, awal bulan dapat ditentukan. Pemaknaan ini yang diikuti oleh ormas Muhammadiyah dan Persis, meskipun keduanya berbeda dalam penggunaan kriteria awal bulan.

NU pada mulanya hanya berpegangan pada hasil rukyat semata. Akan tetapi, seiring perjalanan waktu, NU mulai menerima hisab sebagai pemandu dalam pelaksanaan rukyat. Saat ini NU menggunakan kriteria imkan rukyat yang disepakati oleh negara-negara Mabims, yang beranggotakan Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Sengaja NU tidak mengeluarkan kriteria imkan rukyat yang unik karena hanya akan menyebabkan perbedaan yang semakin lebar. Dengan mengikuti kriteria imkan rukyat yang disepakati bersama tersebut diharapkan kesatuan dapat terwujud. Bukankah perbedaan yang ada hanya dapat dijembatani dengan kesepakatan bersama? Jika kesepakatan itu dilanggar, maka kesepakatan perbedaan tersebut akan selalu terjadi dan berulang.

Pemanfaatan hisab-rukyat

Perbedaan yang selalu terjadi tentunya akan membuat masyarakat semakin heran dan bertanya-tanya, mengapa dalam permasalahan awal bulan ulama panutan kita tidak dapat bersepakat? Oleh karena itu, pendidikan publik melalui diskusi dan seminar merupakan kebutuhan yang selayaknya diselenggarakan.

Hanya saja, diskusi dan seminar yang ada selama ini umumnya baru mencoba mempertemukan dua kubu dengan membahas landasan hukum yang selama ini dianggap bertentangan. Akibatnya, hasil akhir dari diskusi dan seminar selalu dikembalikan pada keyakinan hati masing-masing untuk mengikuti konsep dan kaidah yang ada.

Pada dasarnya, hisab dan rukyat—di samping sebagai bagian dari hukum fikih yang memang mengandung banyak perbedaan pendapat—merupakan bagian dari sains. Oleh karena itu, pemanfaatan unsur sains “hisab-rukyat” tersebut untuk pembelajaran kiranya dapat menumbuhkan minat dan ketertarikan siswa/santri untuk mempelajari ilmu falak lebih jauh.

Permasalahan arah kiblat, waktu shalat, dan kalender melibatkan konsep matematika, fisika, dan astronomi yang menarik untuk dikaji. Perhitungan arah kiblat, misalnya, pada dasarnya merupakan permasalahan konsep segitiga bola yang penuh dengan konsep trigonometri.

Adapun perhitungan waktu shalat sangat terkait dengan pergerakan matahari. Tentunya menarik jika dalam menghitung waktu shalat tersebut juga dikaitkan dengan pengamatan matahari dan mencoba memahami proses hantaran panas dari matahari hingga ke bumi. Begitu juga halnya dengan hilal yang sering mengundang tanda tanya dapat dimanfaatkan untuk mencoba melihat secara geometri bagaimana hilal dapat terbentuk.

Persiapan rukyat dan mengukur posisi hilal juga merupakan aktivitas yang saintifik karena diperlukan pengetahuan arah, sudut, dan panjang dalam pelaksanaan rukyat hilal. Dari ragam kegiatan sains hisab-rukyat tersebut diharapkan siswa/santri lebih memahami fenomena alam yang terjadi sehingga dapat menentukan sikap berdasar bekal pengetahuan yang dimilikinya.

_____________
Salam:
Hendro Setyanto
Observatorium Bosscha-FMIPA ITB, Biro Pengembangan dan Penelitian Lajnah Falak NU

June 28, 2007

Makna Arah Kiblat

Filed under: Artikel

Kiblat pertama Muslimin menuju ke arah Baitul Maqdis. Akan tetapi, karena orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai bahan ejekan; dan selalu berkata :” Kalian Muslimin tidak memiliki agama yang tetap, oleh sebab itu kalian berdiri menghadap kiblat kami”.

Allah SWT Maha Mengetahui, sehingga tidak sekedar ejekan Yahudi, hikmah yang bisa kita petik dari pemindahan arah kiblat ini, namun juga secara geografis, andai kiblat tetap di Majidil Aqsha di Palestina; saat ini kita akan kesulitan menentukan arah kiblat.

Masjidil Aqsha berada di lokasi dengan koordinat LU sebesar 31°46′ 40.93″. Garis ini jelas tidak dilalui matahari saat MIHADAA, sebab paling pol (mentok) matahari akan melewati pada garis Lintang Utara tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU. Jadi mustahil kita menentukan arah kiblat dengan melihat bayangan matahri.

Ka’bah di Masjidil Haram kota Mekkah, berada di garis koordinat 21°25′20.94″ Lintang Utara. Garis ini di bawah 23.5° LU batas matahari melakukan Mihaadaa-nya. Jadi setiap 28 Mei dan 16 juli sore hari sekitar 16:20 menit waktu GMT+7, kita dapat menentukan arah kiblat yang cukup akurat namun mudah.

Gambar di bawah adalah lokasi Qiblat semula dan kini (by: Google Earth).

Gambar di bawah adalah Qiblat Pertama (model 3D by: Google Earth):

Maka dengan perintah Allah SWT kiblat tersebut diubah dari Baitul Maqdis ke Mekah. Setelah itu, orang-orang Yahudi mengajukan kritikan lain, yaitu bahwa jika kiblat yang pertama benar, maka kenapa kalian mengubahnya; dan jika kiblat kedua yang benar, maka salat kalian selama mengghadap kiblat pertama, adalah sia-sia.

Gambar di bawah adalah Qiblat saat ini dan seterusnya (model 3D by: Google Earth):

Akhir2 ini saya sering mendapat pertanyaan perihal arah kiblat yang benar. Dalam obrolan, sebagian mengatakan asal menghadap barat cukup, sebagian lain kiblat itu maknanya banyak…dst. Saya ndak habis pikir mengapa ini bisa terjadi. Sepertinya ini fenomena gunung es kesalahan dalam memahami makna dan hakekat kita diperintahkan menghadap kiblat.

Kalau menghadap kiblat (titik ka’bah) dianggap sepele, maka mengapa kiblat semual ke masjidil aqsha dipindah ke masjidil haram? disana ada hikmah sehingga kita bisa menentukan arah kiblat dengan mudah cukup melihat bayangan matahari. Dan saya yakin hikmah lainnya pasti ada. Dan dasarnya pun amat jelas dan kuat kalau ka’bah itu pusat dan ’sasaran’ pandangan ummat islam ini.

Firman Allah SWT dalam QS.5 (Al-Maidah):97 yang artinya:
“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia”.

Karena pusat, maka menurut Agus Musthofa dalam bukunya “Pusaran Energi Ka’bah”, ka’bah akan memiliki power yang amat besar sebagai akibat dijadikannya ka’bah ini kiblat umat islam, dalam sholat, dan amal ibadah lainnya.

Kita sholat selalu mengikuti gerak matahari. Misal di Yogya saya sholat dhuhur, maka selang beberapa jam di wilayah barat juga akan sholat dhuhur, dan saat itu saya sudah masuk sholat ashar, dan begitu seterusnya, karena matahari bergerak ke barat.

Bila semua ummat islam dalam sholat, dalam dzikir, dalam menguburkan jenazah dan amalan2 lainnya; maka praktis semua energi akan mengarah ke barat ke titik yang sama yakni ka’bah. Kata Pak Agus Musthofa ini akan mengakibatkan perpedaan potensial energi yang amat tinggi antara Ka’bah dan tempat2 di bumi yang dihuni ummat islam. Dan bisa dibayangkan betapa besarnya energi yang terpancar dai Ka’bah akibat berbagai aktifitas di tadi.

Tentang arah kiblat ada yang pernah berkata, ‘Walau menghadap ke timur, khan nanti juga kembalinya ke ka’bah juga.’ Pendapat ini jelas tidak faham posisi dan koordinat tempat di permukaan bumi. Beralasan asal menghadap cukup, saya pikir ini salah besar. Ibarat
tali yang diikatkan ke globe bumi, bila salah satu bagian tali mengenai koordinat ka’bah, pasti
dimanapun posisi orang asal searah (dan mengambil jarak terdekat) pasti arahnya tepat.

Sebaliknya kalau sebagian tali tidak menyentuh koordinat ka’bah, ya…mustahil arahnya akan menuju ka’bah meski berjarak pandang ke ka’bah, apalagi berbeda negara berbeda benua dst.

Pak Ma’rufin - DP JAC, menjabarkan salah satu hikmah yang bisa diambil dari seputar kiblat dan pemindahannya dari al-Aqsa ke Ka’bah.

Salah satunya misalnya dari sudut pandang geologi. Kota Makkah dan hampir keseluruhan Tanah Hijaz itu berdiri di atas bagian kerak Bumi yang sudah sangat tua dan stabil, dan dikenal sebagai Arabian-Nubian Shield. Disini sangat jarang terjadi gempa. Beda dengan Jerusalem, yang berdiri di atas lintasan patahan besar Laut Mati, yang membentang dari Teluk Aqaba di barat daya hingga Pegunungan Taurus dan Van di Turki. Patahan besar ini masih aktif dan berulang kali menjadi generator gempa merusak sepanjang sejarahnya.

Salah satu gempa yang fenomenal (dan kontroversial) terjadi sekitar 2150 BCE ketika segmen
barat daya Laut Mati terpatahkan dan terdeformasi sehingga digenangi air Laut Mati. Gempa ini konon disertai letusan paroksimal (besar-besaran) gunung api yang bekas-bekasnya masih bisa dijumpai di dekat Bashan (Yordania) dan kemungkinan menghasilkan proses tektono-vulkanik. Kombinasi gempa dan letusan ini yang disebut-sebut menghancurkan kota Sodom, Gomorrah dan 5
pusat pemukiman lainnya yang menjadi hunian umat Nabi Luth AS. Apakah al-Aqsa bisa terkena gempa di masa mendatang? Kemungkinan itu sangat terbuka.

Bener, patahan besar Laut Mati sendiri akhirnya berlanjut ke Laut Merah yang berada di tengah
Arabian-Nubian Shield, membentuk Great Rift Valley, lembah terpanjang di Bumi (4.000-an km) yang membentang dari kaki Pegunungan Taurus hingga ke Danau Tanganyika di tengah Afrika. Namun patahan Laut Merah ini bersifat divergen dan tengah berproses menjadi mid oceanic ridge.

Divergensi ini telah ‘memekarkan’ Laut Merah secara perlahan selama 25 juta tahun terakhir
hingga Laut Merah kerap disebut ‘embrio samudra’, sama seperti Selat Makassar di Indonesia, hanya saja di Selat Makassar aktivitas pembukaannya sudah terhenti.

Pada patahan divergen ini aktivitas kegempaan tetap ada, namun lebih lemah dibandingkan patahan transformasi maupun zona subduksi. Dan patahan divergen ini juga tidak melintas langsung di Makkah, sehingga peluang Ka’bah terkena guncangan yang merusak dari gempa (yang misalnya) diproduksi oleh patahan divergen ini cukup kecil.

Memang, kelak ketika aktivitas pemekaran Laut Merah terus berlanjut, benturan mikrolempeng-mikrolempeng dasar Laut Merah vs Arabian Shield akan menghasilkan subduksi, dimana continental slope Arabian Shield akan terpatahkan ke atas (thrust) sementara mikrolempeng
tadi bergerak menunjam ke asthenosfer. Subduksi ini biasanya akan terbentuk dalam rentang jarak yang sangat besar sehingga kerap disebut megathrust. Kapan waktunya? Masih lama. Berkaca pada inisiasi subduksi lempeng India vs mikrolempeng Burma di segmen Simeulue, dibutuhkan waktu 50 juta tahun dari saat kedua lempeng mulai berinteraksi hingga subduksi terjadi, yang baru terdeteksi ketika terjadi gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 silam. So, subduksi laut Merah mungkin baru terjadi sekitar 25 juta tahun mendatang.

Soal shalat mau menghadap ke mana, apa mau ke arah kiblat persis ataukah cukup ke barat (untuk kasus Indonesia), ya memang tergantung tiap orang. Namun, ketika metode untuk menentukan arah kiblat sudah ada, bahkan beragam, sementara alat-alat juga sudah tersedia, bahkan cara yang paling mudah dan murah pun sudah diperkenalkan, tidak terlalu sulit toh menghadapkan diri ke kiblat?

Berikut beberapa masjid yg sempat saya lihat validitas kiblatnya via QiblaLocator Ibnu Mas’ud:
1. Masjid Asy-Syakirin, Kualalumpur Malaysia:

2. Masjid Kampus UGM Yogyakarta Indonesia:

3. Masjid Syuhada Yogyakarta Indonesia:

4. Masjid Raya Bantul Yogyakarta Indonesia (masih kurang serong ke utara):

5. Masjid Kauman Salatiga Indonesia:

dan lain-lain.

Gambar berikut contoh masjid yg menghadap tidak (serong) ke arah kiblat, namun shof di dalam masjid diatur sehingga sholat jama’ah tetap menghadap kiblat:
1. Masjid Syuhada Yogyakarta Indonesia:

2. Masjid Agung Kauman (Alun-alun) Yogyakarta Indonesia:

Tetapi saya lupa, apakah di dalamnya arah shof sudah diarahkan ke kiblat belum…semoga sudah.
Nah, masjid PPMI Assalaam mengalami kasus serupa Masjid Agung Kauman DIY ini. [pakar]

June 22, 2007

Garis Balik Utara

Filed under: Artikel, Laporan

Kemarin tepat tgl 21 Juni 2007, matahari tepat berada di garis balik utara (GBU) yakni garis lintang utara pada titik 23.5°. Matahari akan kembali bergerak menuju ke tengah lalu ke salatan. Dan setelah itu kembali ke semula….terus menerus sampai hari kiamat.

Tetapi pergerakan ini sebenarnya menurut pengamatan kita di bumi saja, sebab yang terjadi menurut ilmu astronomi, justru bumi ini lah yang bergerak. Gerakan bumi ini mengakibatkan posisi matahari yang terlihat dari bumi seolah bergeser utara-selatan terus-menerus. Gerakan bumi ini karena efek dari medan gravitasi antar kutub bumi dan matahari. Gerak ini juga akibat gerak revolusi bumi mengelilingi matahari. Revolusi bumi mengakibatkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Gerak semu matahari.

Karena sebab bumi mengelilingi matahari (revolusi bumi), maka matahari seakan-akan bergerak mengelilingi bumi. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Dalam peredaran semu tersebut matahari memerlukan waktu satu tahun untuk menyelesaikan satu putara penuh dan lintasan matahari yang dilalui disebut ekliptika.

2. Pergeseran matahari antara GBU dan GBS.

Matahari sepanjang tahun mengalami pergeseran ke utara dan ke selatan, yakni pada:
a. tanggal 21 Maret, tepat beredar di khatulistiwa. Matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
b. tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU.
c. tanggal 23 September, tepat berada di khatulistiwa lagi, matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
d. tanggal 22 Desember, tepat berada di lintas 23.5° LS.

Pergeseran matahari seperti ini, merupakan akibat bumi berevolusi mengelilingi matahari dan sumbu rotasinya membentuk sudut 47° terhadap bidang ekliptika dengan kemiringan tetap.

Bila kita pandang dari arah atas kepala kita (yg tinggal di indonesai) saat matahari terbit atau terbenam, seolah matahari yang sangat besar itu mendorong bumi yang kecil ke utara lalu ke selatan terus-menerus sebagai akibat perbedaan polar magnetik kedua benda angakasa itu.

3. Perubahan lama siang dan malam.

4. Pergantian musim.

Wa Allahu a’lamu…[pakar]






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer