Rubu’ al Mujayyab
Khazanah Ummat Islam amatlah banyak. Salah satunya adalah alat astronomi yang satu ini: Rubu’ Al-Mujayyab. Sebuah alat yang berbentuk seperempat lingkaran. Rubu’ artinya Seper Empat.
Khazanah Ummat Islam amatlah banyak. Salah satunya adalah alat astronomi yang satu ini: Rubu’ Al-Mujayyab. Sebuah alat yang berbentuk seperempat lingkaran. Rubu’ artinya Seper Empat.
Allah berfirman dalam surah Al-Baqoroh ayat ke 189:
189. mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya[116], akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
[116] Pada masa jahiliyah, orang-orang yang berihram di waktu haji, mereka memasuki rumah dari belakang bukan dari depan. hal ini ditanyakan pula oleh Para sahabat kepada Rasulullah s.a.w., Maka diturunkanlah ayat ini.
Dalam surat Yusuf 1-7, Allah SWT berfirman:
1. Alif, laam, raa[a]. ini adalah ayat-ayat kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).
[a] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
4. (ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku[b], Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
[b] Bapak Yusuf a.s. ialah Ya’qub putera Ishak putera Ibrahim a.s.
5. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
6. dan Demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu[c] sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[c] Dimaksud bapak disini kakek dan ayah dari kakek.
7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.
Dari ayat ke-4 di atas kita memahami bahwa mimpi nabi Yusuf diceritakan kepada Bapaknya (nabi Ya’qub). Dalam mimpinya nabi Yusuf melihat 11 buah bintang, satu matahari dan satu bulan.
Para mufasir mangatakan bahwa yang dimaksud 11 bintang adalah ibarat jumlah saudara nabi Yusuf yang berjumlah 11 orang, kecuali nabi Yusuf. Selanjutnya satu matahari adalah ibarat ibunya dan satu bulan ibarat ayahnya.
Terlepas dari tafsir di atas, kisah nabi Yusuf ini menarik perhatian saya, manakala ada seorang santri bertanya, “Jumlah bintang itu banyak, mengapa nabi Yusuf hanya melihat 11 buah?”. Pertanyaan ini tidak sepele, karena memang benar adanya. Bintang di angkasa sangatlah banyak. Dan matahari adalah salah satunya. Sementara bulan bukan termasuk bintang dan bulan bagi bumi memang hanya satu.
Sebelas bintang seperti pada ayat di atas, adalah bisa bermakna lain. Kaukab, dalam kamus bahasa Arab Prof. Mahmud Yunus, juga diartikan sebagai percikan api berwarna putih, disamping berarti bintang. Dan berangkat dari makna ini, tentunya kita bisa melihat lain atas kisah nabi Yusuf di atas. Dan darinya pula kita mampu memberikan jawaban atas pertanyaan seorang santri/siswa tadi.
” ‘Ahada ‘Asyara Kaukaban” demikian bunyi ayatnya. Sebelas percikan putih dari suatu api. Mengapa sebelas…? Percikan apa gerangan sehingga sebelas..? Api manakah yang dimaksud..? Lalu masihkan percikan itu hingga kini…?
Api yang dimaksud adalah bintang sebagai makna dasar kaukab. Bintang terdekat dengan bumi kita adalah matahari, karena ia bintang juga adanya. Dengan demikian nabi Yusuf dalam mimpinya melihat kaukab, atau percikan warna putih dari api di permukaan matahari. Inilah yang oleh ilmu modern dikenal sebagai bintik atau noda matahari=sun spot.
Mengapa sebelas, apakah sun spot itu ada sebelas..? Sebelas adalah periode 11 tahun saat percikan api itu muncul seperti sedia kala. Dan kita masih bisa menyaksikannya. Silahkan download versi ‘mpeg’ nya lewat gambar/foto matahari saat ini di bagian samping blog ini.
![]() |
Gambar di atas adalah tabel kemunculan bintik matahari. Setiap 11 tahun, grafiknya kembali ke sedia kala.
Materi yang dipelajari dalam Ilmu Falak antara lain:
1. Arah kiblat dan Bayangan Arah Kiblat,
2. Waktu-waktu Shalat,
3. Awal Bulan Islam, dan
4. Gerhana Bulan dan Matahari.
Mempelajari Arah Kiblat, pada dasarnya adalah menghitung besaran sudut yang diapit oleh garis meridian yang melewati suatu tempat yang dihitung arah kiblatnya dengan lingkaran besar yang melewati tempat tadi dan ka’bah, serta menghitung pada jam berapa matahri memotong jalur menuju ka’bah.
Membahasa waktu-waktu shalat adalah menghitung tenggang waktu antara matahari berada di titik kulminasi atas dengan waktu ketika matahari berada pada awal waktu-waktu shalat.
Membahas awal bulan dalamkelender islam, adalah menghitung waktu ijtima’, yakni posisi matahari dan bulan berada pada bujur astronomi, serta menghitung posisi bulan ketika matahari terbenam pada hari terjadinya ijtima’ atau konjungsi.
Membahas gerhana adalah menghitung waktu terjadinya kontak antara matahari dan bulan, yakni kapan bulanmulai menutupi matahari danlepas darinya pada gerhana matahari; dan kapan bulan mulai masuk pada umbra bayangan bumi serta keluar darinya pada gerhana bulan.
![]() |
QS. Al-Anbiyaa-21 ayat ke-30:
Bahasa Indonesia:
30. dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?
Bahasa Malaysia:
30. dan tidakkah orang-orang kafir itu memikirkan dan mempercayai Bahawa Sesungguhnya langit dan bumi itu pada asal mulanya bercantum (sebagai benda Yang satu), lalu Kami pisahkan antara keduanya? dan Kami jadikan dari air, tiap-tiap benda Yang hidup? maka mengapa mereka tidak mahu beriman?
Bahasa Perancis:
30. ceux qui ont mécru, N’ont-ils pas vu que les cieux et la terre formaient une masse compacte? ensuite nous les avons séparés et fait de l’eau toute chose vivante. ne croiront-ils donc pas ?
Bahasa Russia:
30. Неужели неверующие не видят, что небеса и земля были единым целым и что Мы разделили их и сотворили все живое из воды? Неужели они не уверуют?
Bahasa German:
30. haben die Ungläubigen nicht gesehen, daß die Himmel und die Erde eine Einheit waren, die wir dann zerteilten? und wir machten aus dem Wasser Alles Lebendige. wollen sie denn nicht glauben?
Bahasa Farsi:
آيا كافران نديدند كه آسمان، و زمين به هم پيوندهاي بودند، و ما آنها)! را از يكديگر! باز كرديم; و هر ؿيز زندهاي را از آب قرار داديم؟! آيا ايمان نميآورند؛ (30)
Bahasa Albania:
30. A nuk e dinë ata, të cilët nuk besuan se qiejt e toka ishin të ngjitura, e Ne i ndamë ato të dyja dhe ujin e bëmë bazë të jetës së çdo sendi; a nuk besojnë?
Bahasa Inggris:
30. do not the unbelievers see that the heavens and the earth were joined together (as one unit of creation), before we clove them asunder? we made from water every Living thing. will They not then believe?
30. have not those who disbelieve known that the heavens and the earth were joined together as one united piece, Then we parted them? and we have made from water Every living thing. will they not Then believe?
![]() |
Dengan alat sederhana, jam dalam HP dan Binokuler serta data matahari dan bulan untuk tgl 18 April 2007 dari SNP 5.8.2. (pasti ditambah sepasang teleskop paling canggih dunia akhirat made in ALLAH);
Saya mengamati hilal yang menjadi tanda masuknya bulan Rabi’ul Akhir 1428 H di Klaten (7deg 40min LS
110deg 45min BT, timezone = GMT + 7, ketinggian rata-rata 330 feet di atas permukaa laut) pada 18 April 2007 waktu maghrib, tepatnya dari arean persawahan desa Bendo Ketitang Juwiring Klaten.
Sebagai petunjuk waktu digunakan ponsel Nokia CDMA yang terkalibrasi. Selanjutnya, data SNP 5.8.2, matahari terbenam pukul 17:34 WIB, dengan tinggi bulan = 7 derajat, selisih azimuth 10 derajat (di utara titik terbenamnya matahari), fase 1 %, magnitude visual -12,4, diameter cakram Bulan 33 menit busur, umur Bulan 1.12 hari pasca konjungsi dan selisih antara terbenamnya Matahari dan Bulan adalah 39 menit.
Tidak Tampak
Sekilas pandang nampak bahwa pengamatan amatlah mudah dilakukan. Langit barat Klaten sebagian bahkan seluruhnya tertutup awan hujan, hanya sebagian sedikit ke arah selatan, terlihat awan merah remang-remang. Sampai pukul 18:13 WIB, ketika Bulan tenggelam, keadaan tidak berubah. Yaa, saya belom berhasil melihat.
Secara teoritis hilal pada saat itu sebenarnya amat mungkin dilihat, mengingat altitude diatas 7 derajat alias memenuhi Danjon limit. Pengamatan tidak mungkin dilakukan mengingat, kondisi alam yang memang sangat gelap akibat awan mendung menjelang hujan…hujan cukup deras mestinya. Sudah sepekan ini kawasan karesidenan surakarta dilanda hujan hampir tiap sore dan dilanjut malam.
Berdasar kriteria apapun, maka kondisi hilal yang seperti ini-walau saya sendiri dan juga siapa saja yang se wilayah tidak bisa melihatnya, tetap tanggal 1 Rabi’ul Akhir 1428 H jatuh pada tanggal 19 April 2007.
WasSalam
Menurut bahasa (etimologi), Falak (فَلَكٍ) berarti Orbit atau lintasan benda-benda langit, sehingga Ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit-khususnya bumi, bulan dan matahari- pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk diketahui posisi benda langit antara satu dengan lainnya, agar dapat diketahui waktu-waktu di permukaan bumi.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anbiya - 33:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Artinya:
"dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya"
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer