CASA | Club Astronomi Santri Assalaam

May 24, 2007

Hari Arah kiblat

Filed under: Artikel

Cara Mudah Menentukan Arah Kiblat

“Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka’bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali
lalai akan segala apa yang kamu lakukan.” ( QS. Al-Baqarah : 149 )

“ Baitullah ( Ka’bah ) adalah kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram ( Makkah ) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi, Timur dan Barat dari umatKu” ( Hadith Riwayat Al-Baihaqi )

..

Dalam ajaran Islam, mengadap ke arah kiblat ( Masjidil Haram / Ka’bah ) adalah suatu tuntutan syariah di dalam melaksanakan ibadah tertentu, ia wajib dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah orang Islam, ia juga
merupakan sunah ketika azan, berdoa, berzikir, membaca Al-Quran, menyembelih binatang dan sebagainya.

Berdasarkan tinjauan astronomis atau falak, terdapat beberapa teknik yang
dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat antaranya menggunakan kompas,
theodolit, rasi bintang serta fenomena transit utama matahari di atas kota Mekkah yang dikenal dengan istilah Istiwa A’zam (Istiwa Utama). Di kalangan pesantren di Indonesia istilah yang cukup dikenal adalah “zawal” atau “rashdul qiblat”.

..

Di atas Ka’bah matahari tepat berada di titik Zenith saat Istiwa A’zam.
Istiwa adalah fenomena astronomis saat posisi matahari melintasi meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu
shalat Zuhur. Pada saat tertentu di sebuah daerah dapat terjadi peristiwa
yang disebut Istiwa Utama atau ‘Istiwa A’zam’ yaitu saat posisi matahari berada tepat di titik Zenith (tepat di atas kepala) suatu lokasi.

Namun peristiwa ini hanya terjadi di daerah antara 23,5˚ Lintang Utara dan
23,5˚ Lintang Selatan. Istiwa Utama yang terjadi di kota Makkah dimanfaatkan oleh kaum Muslimin di negara-negara sekitar Arab khususnya yang berbeda waktu tidak lebih dari 5 (lima) jam untuk menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan
teknik bayangan matahari. Istiwa A’zam di Makkah terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 Waktu Makkah dan 16 Juli sekitar pukul 12.26 Waktu Makkah. Fenomena Istiwa Utama terjadi akibat gerakan semu matahari yang
disebut gerak tahunan matahari (musim) sebab selama bumi beredar mengelilingi matahari sumbu bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun terlihat di bumi matahari mengalami pergeseran 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Saat nilai
azimuth matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa Utama yaitu melintasnya matahari melewati zenith.

SENIN, 28 MEI 2007 @ 16:18 WIB
MATAHARI DI ZENITH KOTA MAKKAH
ARAH MATAHARI = ARAH KIBLAT

Teknik penentuan arah kiblat menggunakan Istiwa Utama sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan beberapara negara-negara Islam yang lain juga banyak menggunakan teknik ini. Sebab
teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebilah tongkat dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar
matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa Utama tersebut simak bayangan yang terjadi.

Karena di negara kita peristiwanya terjadi pada sore hari maka arah bayangan tongkat adalah ke Timur, sedangkan arah bayangan sebaliknya yaitu yang ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang benar. Cukup sederhana dan tidak
memerlukan ketrampilan khusus serta perhitungan perhitungan rumus-rumus. Jika hari itu gagal karena matahari terhalang oleh mendung maka masih diberi roleransi penentuan dilakukan pada H-1 atau H+1. Saat matahari di atas Ka’bah semua bayangan matahari mengarah ke sana.

Penentuan arah kiblat menggunakan teknik seperti ini memang hanya berlaku untuk daerah-daerah yang pada saat peristiwa Istiwa Utama dapat melihat secara langsung matahari dan untuk penentuan waktunya menggunakan konversi waktu terhadap Waktu Makkah. Sementara untuk daerah lain di mana saat itu matahari sudah terbenam
misalnya wilayah Indonesia bagian Timur praktis tidak dapat menggunakan teknik ini. Sedangkan untuk sebagian wilayah Indonesia bagian Tengah barangkali masih dapat menggunakan teknik ini karena posisi matahari masih mungkin dapat terlihat. Namun
demikian masih ada teknik lain yang juga menggunakan bayangan matahari untuk menentukan arah kiblat dari suatu tempat di seluruh permukaan bumi yang akan dibahas nanti pada artikel berikutnya.

Berdasarkan perhitungan astronomis menggunakan program Simulator Planetarium Starrynight diperoleh posisi matahari secara presisi saat terjadinya Istiwa Utama di Makkah tahun 2007 ini. Pertama, tanggal 28 Mei 2007 pukul 09:18:37 GMT atau 12:
18:37 Waktu Makkah atau 16:18:37 WIB kedua tanggal 16 Juli 2007 pukul 09.26 GMT atau 12.26 Waktu Mekkah (GMT+3) atau 16.26 WIB (GMT+7) dengan posisi matahari berada di azimuth 294° 42.792′ dan ketinggian (altitude) 14° 37.9′. Seperti tertera pada gambar di bawah ini.

Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Istiwa Utama :
1. Tentukan lokasi masjid/mushalla/langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya. Sediakan tongkat lurus sepanjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk
memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet.

2. Cari lokasi di samping atau di halaman masjid yang mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar dan pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul.

3. Tepat pada saat istiwa a’zam terjadi amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2 menit). Di Indonesia peristiwa Istiwa Utama terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke Timur. Sedangakan bayangan yang menuju ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang tepat.

4. Gunakan tali, tembok atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid / rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah
bayangan. Tidak hanya tongkat yang dapat digunakan untuk melihat bayangan. Menara, gedung, tiang listri, tiang bendera atau benda-benda lain yang tegak. Atau dengan teknik lain misalnya bandul yang kita gantung menggunakan tali sepanjang 1 meter
maka bayangannya dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat.

Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada
baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Dan juga melakukan penentuan arah kiblat tidak mutlak harus dilakukan pada tanggal tersebut bisa saja mundur atau maju 1-2 hari karena pergeserannya relatif sedikit
yaitu sekitar 1/6 derajat setiap hari.

Dari:
Web Pak Toha-JAC

Sumber lain:
Web Pak Fery-ITB

May 4, 2007

Bulan Terbelah

Filed under: Uncategorized

Allah SWT berfirman dalam QS. 54 Al-Qomar ayat 1:

1. telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan[a].

[1] Yang dimaksud dengan saat di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan “terbelahnya bulan” ialah suatu mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya Allah SWT berfirman dalam QS. 54 Al-Qomar ayat 2-5:

2. dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”.

3. dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya[2]

[2] Maksudnya bahwa segala urusan itu pasti berjalan sampai waktu yang telah ditetapkan terjadinya, seperti: urusan Rasulullah dalam meninggikan kalimat Allah pasti sampai pada akhirnya Yaitu kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. sedang urusan orang yang mendustakannya pasti sampai pula pada akhirnya, Yaitu kekalahan di dunia dan siksaan di akhirat.

4. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran).

5. Itulah suatu Hikmah yang sempurna Maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).

Bacalah dengan tartiil..!

May 1, 2007

Mihada=Ayunan

Filed under: Artikel

adalah AYUNAN…?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Allah SWT berfirman dalam :
1. QS. 78. An-Naba’ / ٧٨ النبأ ayat ke-6:

” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ?,”.

2. QS. 20. Thaahaa / ٢٠ طه ayat ke-53:

” Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. ”

Dari dua ayat ini kita memahami bahwa arti kata “mihaadaa” pada ayat ke-6 surat An-Nabaa dan kata “mahdan” pada ayat ke-53 surat Thooha,mestinya serupa. Dan di sana kita mendapatkan hal yang benar adanya yakni Tafsir Depag mengatakan bahwa “mahdan” dan “mihaadaa” adalah ‘hamparan’.

Saya hanya teringat ketika belajar mahfudlot, di sana diajarkan dan disuruh menghafalkan, makanya saya hafal sampai sekarang. Bunyi mahfudlot itu begini: “Uthlubil Ilma minal Mahdi Ilaa ‘lLahdi.” Artinya “Tuntulah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Bahkan ini juga hadits. Tetapi bukan hadits atau mahfudlot masalahnya, namun kata “Mihaadaa” itu sebenarnya apa..?

Di kitab suci al-Qur’an cetakan manapun kita akan mendapatkan bahwa “Mihaadaa” adalah hamparan. Namun saya berkeyakinan sedikit lain. Menurut saya “mihaadaa” adalah yaa seperti di mahfudlot tadi, yakni “buaian”.

Apakah “BUAIAN” itu..?

Berdasar mahfudlot di atas, maka BUAIAN yang dimaksud adalah masa kanak-kanak atau masa bayi. Kita diwajibkan menuntut ilmu dari bayi/lahir sampai liang lahat atau sampai meninggal. Belajar seumur hidup. Long Live Education….

Jadi kata “MIHAADAA” berarti “BUAIAN” atau “AYUNAN”.

Lalu BUAIAN yang seperti apa..? Bumi yang membuai…atau dibuai…maksudnya bagaimana?

Bumi sebenarnya telah lama semenjak diciptakan oleh Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta ini juga telah dibuai. Bukankah bumi kita ini yang setiap hari bergerak sangat cepat sekitar 1600 km/jam juga bergerak ke kiri dan ke kanan?

Gerakan inilah yang mengakibatkan posisi matahari terbit dan tenggelam kita lihat bergeser ke utara dan ke selatan setiap tahunnya.

Jadi firman Allah dalam QS. 78:6-” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai HAMPARAN ?,” mestinya bisa kita pahami sebagai ” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai BUAIAN ?,”. Begitu juga QS.20:53.

Pada setiap tanggal 21 Juni, matahari akan berada di garis balik utara yakni lintang 23.5° utara khatulistiwa. Matahari sepanjang tahun mengalami pergeseran ke utara dan ke selatan, yakni pada:
1. tanggal 21 Maret, tepat beredar di khatulistiwa. Matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
2. tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° utara.
3. tanggal 23 September, tepat berada di khatulistiwa lagi, matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
4. tanggal 22 Desember, tepat berada di lintas 23.5° selatan..

Pergeseran matahari seperti ini, merupakan akibat bumi berevolusi mengelilingi matahari dan sumbu rotasinya membentuk sudut 66.5° terhadap bidang ekliptika dengan kemiringan tetap.

Dalam QS. (51) Adz-Dzariyaat / ٥١ الذاريات ayat ke - 48 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan bumi itu Kami beri dian medan (gravitasi), maka sebaik-baik yang menggoyang (buai/ayun)kan (adalah Kami).”

Demikian MIHAADA….Wa Allahu a’lamu…[pakar].






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer