CASA | Club Astronomi Santri Assalaam

June 28, 2007

Makna Arah Kiblat

Filed under: Artikel

Kiblat pertama Muslimin menuju ke arah Baitul Maqdis. Akan tetapi, karena orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai bahan ejekan; dan selalu berkata :” Kalian Muslimin tidak memiliki agama yang tetap, oleh sebab itu kalian berdiri menghadap kiblat kami”.

Allah SWT Maha Mengetahui, sehingga tidak sekedar ejekan Yahudi, hikmah yang bisa kita petik dari pemindahan arah kiblat ini, namun juga secara geografis, andai kiblat tetap di Majidil Aqsha di Palestina; saat ini kita akan kesulitan menentukan arah kiblat.

Masjidil Aqsha berada di lokasi dengan koordinat LU sebesar 31°46′ 40.93″. Garis ini jelas tidak dilalui matahari saat MIHADAA, sebab paling pol (mentok) matahari akan melewati pada garis Lintang Utara tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU. Jadi mustahil kita menentukan arah kiblat dengan melihat bayangan matahri.

Ka’bah di Masjidil Haram kota Mekkah, berada di garis koordinat 21°25′20.94″ Lintang Utara. Garis ini di bawah 23.5° LU batas matahari melakukan Mihaadaa-nya. Jadi setiap 28 Mei dan 16 juli sore hari sekitar 16:20 menit waktu GMT+7, kita dapat menentukan arah kiblat yang cukup akurat namun mudah.

Gambar di bawah adalah lokasi Qiblat semula dan kini (by: Google Earth).

Gambar di bawah adalah Qiblat Pertama (model 3D by: Google Earth):

Maka dengan perintah Allah SWT kiblat tersebut diubah dari Baitul Maqdis ke Mekah. Setelah itu, orang-orang Yahudi mengajukan kritikan lain, yaitu bahwa jika kiblat yang pertama benar, maka kenapa kalian mengubahnya; dan jika kiblat kedua yang benar, maka salat kalian selama mengghadap kiblat pertama, adalah sia-sia.

Gambar di bawah adalah Qiblat saat ini dan seterusnya (model 3D by: Google Earth):

Akhir2 ini saya sering mendapat pertanyaan perihal arah kiblat yang benar. Dalam obrolan, sebagian mengatakan asal menghadap barat cukup, sebagian lain kiblat itu maknanya banyak…dst. Saya ndak habis pikir mengapa ini bisa terjadi. Sepertinya ini fenomena gunung es kesalahan dalam memahami makna dan hakekat kita diperintahkan menghadap kiblat.

Kalau menghadap kiblat (titik ka’bah) dianggap sepele, maka mengapa kiblat semual ke masjidil aqsha dipindah ke masjidil haram? disana ada hikmah sehingga kita bisa menentukan arah kiblat dengan mudah cukup melihat bayangan matahari. Dan saya yakin hikmah lainnya pasti ada. Dan dasarnya pun amat jelas dan kuat kalau ka’bah itu pusat dan ’sasaran’ pandangan ummat islam ini.

Firman Allah SWT dalam QS.5 (Al-Maidah):97 yang artinya:
“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia”.

Karena pusat, maka menurut Agus Musthofa dalam bukunya “Pusaran Energi Ka’bah”, ka’bah akan memiliki power yang amat besar sebagai akibat dijadikannya ka’bah ini kiblat umat islam, dalam sholat, dan amal ibadah lainnya.

Kita sholat selalu mengikuti gerak matahari. Misal di Yogya saya sholat dhuhur, maka selang beberapa jam di wilayah barat juga akan sholat dhuhur, dan saat itu saya sudah masuk sholat ashar, dan begitu seterusnya, karena matahari bergerak ke barat.

Bila semua ummat islam dalam sholat, dalam dzikir, dalam menguburkan jenazah dan amalan2 lainnya; maka praktis semua energi akan mengarah ke barat ke titik yang sama yakni ka’bah. Kata Pak Agus Musthofa ini akan mengakibatkan perpedaan potensial energi yang amat tinggi antara Ka’bah dan tempat2 di bumi yang dihuni ummat islam. Dan bisa dibayangkan betapa besarnya energi yang terpancar dai Ka’bah akibat berbagai aktifitas di tadi.

Tentang arah kiblat ada yang pernah berkata, ‘Walau menghadap ke timur, khan nanti juga kembalinya ke ka’bah juga.’ Pendapat ini jelas tidak faham posisi dan koordinat tempat di permukaan bumi. Beralasan asal menghadap cukup, saya pikir ini salah besar. Ibarat
tali yang diikatkan ke globe bumi, bila salah satu bagian tali mengenai koordinat ka’bah, pasti
dimanapun posisi orang asal searah (dan mengambil jarak terdekat) pasti arahnya tepat.

Sebaliknya kalau sebagian tali tidak menyentuh koordinat ka’bah, ya…mustahil arahnya akan menuju ka’bah meski berjarak pandang ke ka’bah, apalagi berbeda negara berbeda benua dst.

Pak Ma’rufin - DP JAC, menjabarkan salah satu hikmah yang bisa diambil dari seputar kiblat dan pemindahannya dari al-Aqsa ke Ka’bah.

Salah satunya misalnya dari sudut pandang geologi. Kota Makkah dan hampir keseluruhan Tanah Hijaz itu berdiri di atas bagian kerak Bumi yang sudah sangat tua dan stabil, dan dikenal sebagai Arabian-Nubian Shield. Disini sangat jarang terjadi gempa. Beda dengan Jerusalem, yang berdiri di atas lintasan patahan besar Laut Mati, yang membentang dari Teluk Aqaba di barat daya hingga Pegunungan Taurus dan Van di Turki. Patahan besar ini masih aktif dan berulang kali menjadi generator gempa merusak sepanjang sejarahnya.

Salah satu gempa yang fenomenal (dan kontroversial) terjadi sekitar 2150 BCE ketika segmen
barat daya Laut Mati terpatahkan dan terdeformasi sehingga digenangi air Laut Mati. Gempa ini konon disertai letusan paroksimal (besar-besaran) gunung api yang bekas-bekasnya masih bisa dijumpai di dekat Bashan (Yordania) dan kemungkinan menghasilkan proses tektono-vulkanik. Kombinasi gempa dan letusan ini yang disebut-sebut menghancurkan kota Sodom, Gomorrah dan 5
pusat pemukiman lainnya yang menjadi hunian umat Nabi Luth AS. Apakah al-Aqsa bisa terkena gempa di masa mendatang? Kemungkinan itu sangat terbuka.

Bener, patahan besar Laut Mati sendiri akhirnya berlanjut ke Laut Merah yang berada di tengah
Arabian-Nubian Shield, membentuk Great Rift Valley, lembah terpanjang di Bumi (4.000-an km) yang membentang dari kaki Pegunungan Taurus hingga ke Danau Tanganyika di tengah Afrika. Namun patahan Laut Merah ini bersifat divergen dan tengah berproses menjadi mid oceanic ridge.

Divergensi ini telah ‘memekarkan’ Laut Merah secara perlahan selama 25 juta tahun terakhir
hingga Laut Merah kerap disebut ‘embrio samudra’, sama seperti Selat Makassar di Indonesia, hanya saja di Selat Makassar aktivitas pembukaannya sudah terhenti.

Pada patahan divergen ini aktivitas kegempaan tetap ada, namun lebih lemah dibandingkan patahan transformasi maupun zona subduksi. Dan patahan divergen ini juga tidak melintas langsung di Makkah, sehingga peluang Ka’bah terkena guncangan yang merusak dari gempa (yang misalnya) diproduksi oleh patahan divergen ini cukup kecil.

Memang, kelak ketika aktivitas pemekaran Laut Merah terus berlanjut, benturan mikrolempeng-mikrolempeng dasar Laut Merah vs Arabian Shield akan menghasilkan subduksi, dimana continental slope Arabian Shield akan terpatahkan ke atas (thrust) sementara mikrolempeng
tadi bergerak menunjam ke asthenosfer. Subduksi ini biasanya akan terbentuk dalam rentang jarak yang sangat besar sehingga kerap disebut megathrust. Kapan waktunya? Masih lama. Berkaca pada inisiasi subduksi lempeng India vs mikrolempeng Burma di segmen Simeulue, dibutuhkan waktu 50 juta tahun dari saat kedua lempeng mulai berinteraksi hingga subduksi terjadi, yang baru terdeteksi ketika terjadi gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 silam. So, subduksi laut Merah mungkin baru terjadi sekitar 25 juta tahun mendatang.

Soal shalat mau menghadap ke mana, apa mau ke arah kiblat persis ataukah cukup ke barat (untuk kasus Indonesia), ya memang tergantung tiap orang. Namun, ketika metode untuk menentukan arah kiblat sudah ada, bahkan beragam, sementara alat-alat juga sudah tersedia, bahkan cara yang paling mudah dan murah pun sudah diperkenalkan, tidak terlalu sulit toh menghadapkan diri ke kiblat?

Berikut beberapa masjid yg sempat saya lihat validitas kiblatnya via QiblaLocator Ibnu Mas’ud:
1. Masjid Asy-Syakirin, Kualalumpur Malaysia:

2. Masjid Kampus UGM Yogyakarta Indonesia:

3. Masjid Syuhada Yogyakarta Indonesia:

4. Masjid Raya Bantul Yogyakarta Indonesia (masih kurang serong ke utara):

5. Masjid Kauman Salatiga Indonesia:

dan lain-lain.

Gambar berikut contoh masjid yg menghadap tidak (serong) ke arah kiblat, namun shof di dalam masjid diatur sehingga sholat jama’ah tetap menghadap kiblat:
1. Masjid Syuhada Yogyakarta Indonesia:

2. Masjid Agung Kauman (Alun-alun) Yogyakarta Indonesia:

Tetapi saya lupa, apakah di dalamnya arah shof sudah diarahkan ke kiblat belum…semoga sudah.
Nah, masjid PPMI Assalaam mengalami kasus serupa Masjid Agung Kauman DIY ini. [pakar]

June 22, 2007

Garis Balik Utara

Filed under: Artikel, Laporan

Kemarin tepat tgl 21 Juni 2007, matahari tepat berada di garis balik utara (GBU) yakni garis lintang utara pada titik 23.5°. Matahari akan kembali bergerak menuju ke tengah lalu ke salatan. Dan setelah itu kembali ke semula….terus menerus sampai hari kiamat.

Tetapi pergerakan ini sebenarnya menurut pengamatan kita di bumi saja, sebab yang terjadi menurut ilmu astronomi, justru bumi ini lah yang bergerak. Gerakan bumi ini mengakibatkan posisi matahari yang terlihat dari bumi seolah bergeser utara-selatan terus-menerus. Gerakan bumi ini karena efek dari medan gravitasi antar kutub bumi dan matahari. Gerak ini juga akibat gerak revolusi bumi mengelilingi matahari. Revolusi bumi mengakibatkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Gerak semu matahari.

Karena sebab bumi mengelilingi matahari (revolusi bumi), maka matahari seakan-akan bergerak mengelilingi bumi. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Dalam peredaran semu tersebut matahari memerlukan waktu satu tahun untuk menyelesaikan satu putara penuh dan lintasan matahari yang dilalui disebut ekliptika.

2. Pergeseran matahari antara GBU dan GBS.

Matahari sepanjang tahun mengalami pergeseran ke utara dan ke selatan, yakni pada:
a. tanggal 21 Maret, tepat beredar di khatulistiwa. Matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
b. tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU.
c. tanggal 23 September, tepat berada di khatulistiwa lagi, matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
d. tanggal 22 Desember, tepat berada di lintas 23.5° LS.

Pergeseran matahari seperti ini, merupakan akibat bumi berevolusi mengelilingi matahari dan sumbu rotasinya membentuk sudut 47° terhadap bidang ekliptika dengan kemiringan tetap.

Bila kita pandang dari arah atas kepala kita (yg tinggal di indonesai) saat matahari terbit atau terbenam, seolah matahari yang sangat besar itu mendorong bumi yang kecil ke utara lalu ke selatan terus-menerus sebagai akibat perbedaan polar magnetik kedua benda angakasa itu.

3. Perubahan lama siang dan malam.

4. Pergantian musim.

Wa Allahu a’lamu…[pakar]

June 18, 2007

Hilal Baru hari ke-2

Filed under: Laporan

Kapan melihat HILAL BARU Jumadil Tsaniyah 1428 H…?
Semestinya, hari Pertama melihat hilal baru bulan Jumadil Akhirah/Tsaniyah 1428 H ini pada Jum’at 15 Juni 2007, karena konjungsi terjadi pada Jum’at 15 Juni 2007 jamt 03:13 UT, atau sekitar 09.13 WIB.

Namun karena altitude Hilal saat Sunset tidak lebih dari 2°, maka tidak mungkin hilal baru akan tampak pada hari Jum’at sore (maghrib) dilihat dari Indonesia seluruhnya. Visibilitas Hilal Jumadil Tsaniyah 1428 H.

Akhirnya, saya berniat melihatnya di hari Sabtu karena sangat mungkin walau dengan mata telanjang. Semula ragu mau melihatnya di hari Sabtu 16 Juni 2007 karena sekilas langit di harizon barat agak mendung. Nah, ini kebetulan yang membawa kebahagiaan…Saat mau pulang ke Klaten, saya mampir di Markaz ‘Benteng Takeshi’ kompleks barat PPMI Assalaam atau yang oleh kebanyakan teman dikenal sebagai kompleks ATC…menjelang kamar transit…Subhanallah……

Hilal itu tampak sangat jelas…dan saya pun bersyukur….baru kali ini melihat hilal sejelas ini:

Kalau temen di JAC berhasil merekan Hilal hari ke-2 ini di Parangkusumo, seperti alasan Pak Toha “Dipilihnya hari kedua pasca ijtimak/konjungsi karena beberapa pertimbangan diantaranya separoh lebih anggota yang ikut adalah newbie yang baru pertama kali mengikuti kegiatan rukyat”.

Ternyata sama kesan saya, bahwa harapannya hilal akan terlihat dengan jelas karena sesuai hisab/perhitungan secara astronomis iluminasi bulan sudah mencapai 2% dengan tinggi hilal saat sunset sudah mencapai 14° sehingga mudah dilihat.

Selama hampir 15 menit saya tidak beranjak dari lokasi yang mendadak saya temukan…ya, di lapangan sepak bola PPMI Assalaam kompleks barat. Semoga Allah mengampuni saya, karena di Masjid ada sholat maghrib berjama’ah, saya malah asyik merekam Hilal. Dengan modal sebuah DSLR Digital Camera dan jok motor sebagai gantinya Tripod, akhirnya HILAL BARU ini berhasil kuabadikan.

Pemandangan ke arah horizon barat menjadi sangat indah karena dua buah gunung besar yakni Merapi dan Merbabu menampakkan rona silhuetnya. Posisi hilal kebetulan tidak di jam 12 melainkan sekitar jam 2, sehingga sampai elongasi terkecilpun saya masih sempat melihat, merekam bahkan ‘menggenggam’nya.

Sekali lagi aku bersyukur…dan setelah lega aku akhirnya…masuk kamar…lalu mandi dan sholat maghrib, terus mudik ke Klaten…(ada kondangan, hehehe).

Inilah HILAL BARU hari ke-2 untuk bulan Jumadil Tsaniyah 1428 H. Citra saya ambil dengan Canon EOS Digital N series ISO 400, AWB, f/5.6, AV/8″.

see you ….and thank’s for your visiting. [pakar]

Rekomendasi Konferensi Astronomi di Abu Dhabi

Filed under: Laporan

Under the patronage of His Highness Sheikh Mansour Bin Zayed Al Nahyan, minister of presidential affairs, the Emirates Astronomical Society (EAS), the Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP), and the Center for Documentation and Research (CDR) organized an astronomical conference on “Applications of Astronomical Calculations” in Abu Dhabi on 13-14 December 2006 (22-23 Dhul Keadah 1427 AH). The participants, who numbered over 100 from 26 countries (Algeria, Australia, Egypt, France, Germany, Great Britain, Holland, Indonesia, Iran, Iraq, Jordan, KSA, Kuwait, Libya, Malaysia, Morocco, Norway, Oman, Palestine, Qatar, Singapore, Syria, Tunisia, UAE, Yemen, and USA), exalted the conference for its high scientific level and adopted the following recommendations:

1. Set up a committee to evaluate the conference from all aspects and make recommendations for the next conference.

2. Consider this conference as the first in a series of “Emirates Astronomical Conferences” and organize similar ones every two years.

3. Adopt an Islamic Calendar based on crescent visibility calculations and strive to make it as widely acceptable as possible.

4. Reject all testimonies of crescent observations that claim to break the well known records (Moon age, lag time, and particularly the Danjon limit) unless and until they are confirmed and accepted by the astronomical expert community.

5. Include astronomers with expertise in crescent visibility in the official committees that determine the beginning of Hejric months.

6. Continue and strengthen the studies of prayer times and publicize these studies.

7. Start the study for the creation of a UAE national observatory for astronomical research.

8. Introduce chapters and modules on applied astronomy in the educational curricula.

9. Introduce regular newspaper and magazine columns and TV programs on Astronomy in place of Astrology, and publish Moonrise and Moonset times in the newspapers.

10. Publish the proceedings book with high scientific standards at the earliest and distribute to libraries so as to make it a prime reference on the subject for all researchers.

11. Publish a summary article about the conference in newspapers and magazines.

12. Post the main recommendations and results of this first conference on the ICOP’s website and on partner websites.

Recommendations Related to the Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP)

1. On the other hand, the participants discussed ICOP’s future and adopted the following recommendations:-

2. Set up an Executive Committee with clear prerogatives.

3. Establish new committees in ICOP, with a specific mandate and detailed agenda for each committee:
Scientific committee.
Educational committee.
Media committee.
Committee to finalize the new general objectives and future program of ICOP.

4. Publish an annual report for ICOP, with report sections for each committee.

5. Publish an annual report on the “State of Astronomy in the Muslim World”, with figures and information to be published in the media.

6. Develop the ICOP website to be pluri-lingual, particularly in the Arabic language.

7. Strengthen the scientific and educational activities of the project.

8. Strive to reach wider audiences, especially those with influence within society: officials, religious authorities, educators.

9. Organize local and regional workshops to train amateurs, educators and students on astronomical applications in Islam (crescent sighting, calendars, prayer times, Qiblah Direction).

10. Strengthen media activity and outreach on astronomical applications in Islam.

11. Recommend and encourage crescent sightings by groups and include astronomers whenever possible in order to reduce false crescent sightings.

12. Raise the knowledge content (articles, etc.) of the ICOP website so as to make it the prime reference on the subject for researchers everywhere.

From:
ICO Project.

June 16, 2007

Sabit Tua Jumadil Ula 1428 H

Filed under: Artikel, Laporan

Mau pake hisab atau rukyat? Pertanyaan jenis ini sering muncul ketika mengulas penanggalan Hijriyyah, terutama menyangkut penentuan awal Ramadhan, awal Syawwal (Idul Fitri) dan awal
Dzulhijjah (yang menjadi patokan bagi Idul Adha).

Dalam realitanya publik memang ‘terbelah’ dalam menyikapi penanggalan Hijriyyah ke dalam dua kutub : hisab dan rukyat, yang seakan-akan saling berhadapan secara diametral dan tidak bisa dicari titik temunya. ” Akan terus berbeda sampai hari Akhir, ” begitu gurauan pak Najib, sahabat saya yang hakim agama dan hampir tiap tahun puyeng ditanya-tanya soal ini.

Kepuyengan semacam ini tentunya tak perlu terjadi jika saja kita mengetahui antara hisab dan rukyat sebenarnya adalah dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Bahwa persoalan sebenarnya terletak pada definisi kita tentang “hilaal”. Dan jika definisi hilaal ini sudah tercapai titik temunya, maka hisab dan rukyat akan memberikan hasil yang sama. Ini bisa dianalogikan dengan menentukan waktu shalat dhuhur, misalnya. Karena definisi untuk awal shalat dhuhur sudah disepakati, yakni saat transitnya Matahari di meridian setempat (atau dengan bahasa sederhana, jika bayang-bayang tongkat lurus yang disinari cahaya Matahari tepat sejajar dengan arah utara-selatan sejati), maka baik menentukan waktu dhuhur dengan bayangan Matahari maupun murni berdasarkan tabulasi jadwal shalat, hasilnya sama saja. Mengapa bisa demikian? Ya karena astronomi adalah cabang ilmu dengan tingkat akurasi yang demikian tinggi khususnya ketika menelaah pergerakan Matahari dan Bulan.

Belum adanya definisi bersama tentang hilaal lebih disebabkan oleh kurangnya data. Jika Matahari hampir setiap hari bisa diamati, maka Bulan (khususnya pada fase sangat kecil seperti hilaal) hanya muncul pada waktu-waktu tertentu. Selama ini, di Indonesia, observasi hilaal hanya dilakukan maksimum 4 kali oleh para pengamat (1 waktu tambahan pada saat menentukan awal Muharram). Jumlah yang kurang ini masih ditambah dengan bias-nya kesimpulan terhadap hasil observasi,
dimana pengamat belum bisa membedakan apakah yang diamatinya benar-benar merupakan hilaal ataukah sumber cahaya lain baik di latar belakang (seperti Merkurius, Venus dan beberapa bintang terang) maupun latar depan (pantulan cahaya Matahari di awan, lampu mercusuar,
lampu kapal dll).

Peredaran Bulan mengelilingi Bumi membuat fase (baca : wajah) Bulan bersifat siklik, sehingga Bulan dengan fase sangat kecil selalu muncul pada dua kesempatan yang berbeda : beberapa belas jam setelah konjungsi (dikenal dengan sabit muda/hilaal) dan beberapa belas jam sebelum konjungsi (dikenal dengan istilah sabit tua). Karena dalam setahun Hijriyyah terdapat dua
belas lunasi, maka dalam setahun Hijriyyah terdapat 2 x 12 = 24 kesempatan untuk mengobservasi Bulan dalam fase sebagai hilaal ataupun sabit tua, sehingga data akan visibilitas hilaal/sabit tua bisa bertambah.

Dalam konteks tersebut, kami melakukan observasi sabit tua yang menandai akhir lunasi Jumadil Ula 1428 H, mengambil lokasi di Kompleks Islamic Centre Kebumen (7deg 40min LS 109deg 38min BT, 21 m dpl) menjelang fajar 14 Juni 2007. Tanggal ini dipilih karena pada fajar 15 Juni 2007 (tanggal terjadinya konjungsi), tinggi Bulan dan Matahari hampir sama sehingga secara teknis tidak mungkin saat itu sabit tua bisa diamati. Dari titik pengamatan, sabit tua diestimasikan muncul di lokasi Bukit Wonokromo, salah satu horst dari patahan Kedungbener sehingga secara teknis sabit tua baru bisa diamati jika ketinggiannya melebihi 3 derajat.

Observasi dilakukan dengan mata telanjang. Beberapa citra diambil dengan digicam DSC U-20 2 megapixel tanpa zoom. Sebagai petunjuk waktu dipakai internal clock ponsel Siemens C-45 yang telah dikalibrasi dengan 103-nya Telkom. Alat bantu lain yang digunakan adalah tabel tinggi Bulan vs waktu lokal (dalam WIB) yang diderivasikan dari MoonCalc v4.0 yang diset toposentrik, mengabaikan refraksi atmosfer dan kondisi sunrise/sunset geometrik. Lewat MoonCalc v4.0 juga
diketahui saat Matahari terbit (05:54 WIB) Bulan memiliki elemen : tinggi=14,38 derajat; azimuth=59,95 derajat (azimuth relatif= -6,63 derajat terhadap Matahari); elongasi=15,97 derajat; magnitude visual= -5,66; fase=2,2 %; lebar sabit=0,6 menit busur dan umur Bulan 28,3 jam sebelum konjungsi. Umur sabit (yakni waktu terbit Bulan dikurangi waktu terbit Matahari) adalah 70 menit. Sehingga dengan formula “best time” Yallop, sabit tua ini akan nampak sampai pukul 05:23 WIB.

Meski bulan Juni 2007 tergolong dalam musim kemarau, saat pengamatan ternyata lebih dari separuh langit timur tertutupi awan Cumulus yang secara perlahan bergerak ke utara. Namun di atas Bukit Wonokromo langit sempat relatif lebih bersih untuk beberapa saat. Ketika tiba di lokasi pengamatan (pukul 05:05 WIB) sabit tua sudah terlihat ‘mengapung’ di atas Bukit Wonokromo dengan cahaya cukup samar, dan lebih ke atas lagi nampak Mars yang kemerahan dan lebih
samar lagi. Selain sabit tua dan Mars, tidak ada lagi benda langit lain yang nampak. MoonCalc v4.0
menunjukkan saat itu tinggi sabit tua adalah 4 derajat.

Sabit tua hanya nampak sebagai goresan tipis dengan cahaya yang pucat tanpa bentuk lengkungan sabitnya yang khas. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tebalnya awan di latar depan sabit tua. Jika tidak dilihat dengan cermat, sabit tua saat itu tidak berbeda dengan bintang. Namun peta langit timur dari Starry Night Backyard v3.1 menunjukkan di sekitar sabit tua hanya ada alpha Tauri (Aldebaran) dan alpha Persei (Mirfak). Berdasar Steve Moshier’s Ephemeris Program v5.6, tinggi alpha Tauri (magnitude visual +0,8) adalah 1,4 derajat dan secara teknis masih tertutupi Bukit Wonokromo. Sementara alpha Persei memiliki tinggi 7,5 derajat namun dengan magnitude
visual +1,8 (2,5 kali lebih gelap dibanding alpha Tauri dan 965 kali lebih gelap dari sabit tua), dengan analogi pengalaman pengamatan kami terhadap Sirius, maka pada kondisi awan saat itu tidak mungkin alpha Tauri terlihat mata telanjang.

Sabit tua hanya nampak hingga pukul 05:09 WIB, ketika awan Cumulus mulai berarak menutupinya. Hingga pukul 05:54 kondisi tidak berubah. Kondisi ketika sabit tua terakhir terlihat masih gelap, sehingga citra sabit tua tidak tertangkap oleh digicam. [Ma’rufin S]

June 6, 2007

Koreksi Arah Kiblat

Filed under: Kegiatan

Tepat di hari Senin 28 Mei 2007, segenap anggota CASA (Club Astronomi Santri Assalaam) melakukan koreksi bersama atas arah qiblat di lokasi PPMI Assalaam. Tempat-tempat yang digunakan untuk menentukan arah qiblat masing-masing: Masjid Jami’ Assalaam, Kantor Pusat Assalaam, Wisma Assalaam, Ruang Tamu, Lapangan Basket Putri dan Rayon Putra, serta Depan Gelora Asalaam (depan Prasasti).

Upaya ini dilakukan sebagai wujud kepedulian CASA kepada nilai-nilai syar’i di lingungan PPMI Assalaam, khususnya dalam melaksanakan ibadah yang disayari’atkan menghadap kiblat. Dari data yang kita dapatkan, bahwa masjid Asslaam yang sudah menjadi sentral ibadah penghuni Assalam dan warga sekitar, arah kiblatnya masih mengalami kesalahan sekitar 20 derajat dari arah yang sekarang berlaku. Hasil kerja anak-anak yang hobi astronomi ini segera dikonfirmasikan ke pihak Pondok, via Pembimbing CASA. Namun karena konfirmasi sebatas lisan,maka jawaban pihak Pondok pun kurang memberikan respon dalam arti akan merubah dan membetulkan arah kiblatnya Masjid. Disamping kepedulian ilmu yang amali semacam ini, saya yakin tidak hanya di Pondok Assalaam, namun dimanapun, mayoritas Ummat Islam…ya yang penting ikuti saja yang sudah ada.

Setahu saya, orang yang beramal tanpa ada dasar ilmu, akan ditolak. Maka walau anak-anak CASA meminta saya berorasi di mimbar dengan harapan seluruh santri dan jama’ah menjadi faham adanya, saya pikir upaya melakukan koreksi secara kolosal dan disaksikan banyak orang yang melintas area koreksi arah kiblat sudah cukup memanggil dan mendakwahkan misi ini. Namun selebihnya tetap saja kembali kepada kepedulian atas ilmu dan amal. Berawal dari Niat, gitulah kira2…Ber-Ilmu yang Amaliyah, dan Ber-Amal yang Ilmiah, moga2 amal kita diterima dan diridloi-Nya.

Berikut beberapa gambar saat dilakukan pengambilan data arah kiblat pada saat matahari tepat di titik Zenit Ka’bah 28 Mei 2007 sare yang lalu.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) sesaat setelah Istiwa A’dham dan menemukan arah kiblat di pojok selatan Masjid Jami’ PPMI Assalaam. Perhitungan CASA, arahnya masih kurang ke utara sekitar 15-20 derajat.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) saat menunggu detik2 Istiwa A’dham) di depan Wisma Assalaam bagian pojok utara.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) usai menentukan arah kiblat versi Istiwa A’dham dan menggambarkan arah kiblat di depan Prasasti Assalaam.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) saat menjelang Istiwa A’dham di depan Kantor Assalaam.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (dan santriwati anggota Perkisa) setelah Istiwa A’dham dan menemukan arah kiblat di lapangan Basket.

Gambar di atas adalah Anggota CASA (santriwan kelas X MA) sesaat setelah Istiwa A’dham dan menemukan arah kiblat di depan Ruang tamu Putri PPMI Assalaam.

Semoga karya dan sumbangsih CASA kali ini membawa manfaat, khususnya bagi anggota CASA sendiri, dan umumnya warga PPMI Assalaam. Di tempat lain, para asatidz yang sempat menerima edaran dari CASA juga melakukan koreksi atas arah kiblat masjid di lingkungan masing-masing.

Cara lain menentukan arah Qiblat:
1. Qibla Locator On Line, atau
2. Qibla Via Google Earth.

Wa’allahu ‘Alamu…[+]






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer