CASA | Club Astronomi Santri Assalaam

September 13, 2007

Di balik Nishfu Sya’ban

Filed under: Artikel

Pada malam tanggal 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka’bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.

 

 

Gambar: Masjid al-Aqsha di Palestina 

 

Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat salat adalah Ka’bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat salat dari Ka’bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat salat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.

Tetapi setelah Rasulullah saw menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.

 

 

 

Gambar: Masjid an-Nabawi di Madinah 

Karena itu Rasulullah saw berulang kali berdoa memohon kepada Allah swt agar diperkenankan pindah kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, "Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka’bah) yang selama ini mereka gunakan?" Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 143:

 وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنْتَ عَلَيْهَا إلاَّ لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ.

Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…

Dan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah saw memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144.

 

Gambar: Masjidil Haram di Mekah 

Arah qiblat tidak sekedar menghadapkan wajah ke lokasi ka’bah, namun ada makna tersirat yang kita harus ketahui. Barangkali inilah sebagian hikmah dari perpindahan arah qiblatdari Palestina ke Makkah, dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram.

 

 

Hikmah perpindahan arah qiblat antara lain:

1. Karena posisi Ka’bah di Mekkah, dan kota Mekkah di permukaan bumi ini berada di area lintangutara 21d25m, maka ada kemudahan bagi sebgain ummat Islam yang masih melihat cahaya dan bayangan matahari pada saat Istiwaa’ a’dham.

Selengkapnya makna arah qiblat

 

Gambar: Denah Migrasi arah Qiblat 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://falak.blogsome.com/2007/09/13/di-balik-nishfu-syaban/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer