CASA | Club Astronomi Santri Assalaam

September 13, 2007

Di balik Nishfu Sya’ban

Filed under: Artikel

Pada malam tanggal 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka’bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.

 

 

Gambar: Masjid al-Aqsha di Palestina 

 

Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat salat adalah Ka’bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat salat dari Ka’bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat salat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.

Tetapi setelah Rasulullah saw menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.

 

 

 

Gambar: Masjid an-Nabawi di Madinah 

Karena itu Rasulullah saw berulang kali berdoa memohon kepada Allah swt agar diperkenankan pindah kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, "Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka’bah) yang selama ini mereka gunakan?" Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 143:

 وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنْتَ عَلَيْهَا إلاَّ لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ.

Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…

Dan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah saw memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144.

 

Gambar: Masjidil Haram di Mekah 

Arah qiblat tidak sekedar menghadapkan wajah ke lokasi ka’bah, namun ada makna tersirat yang kita harus ketahui. Barangkali inilah sebagian hikmah dari perpindahan arah qiblatdari Palestina ke Makkah, dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram.

 

 

Hikmah perpindahan arah qiblat antara lain:

1. Karena posisi Ka’bah di Mekkah, dan kota Mekkah di permukaan bumi ini berada di area lintangutara 21d25m, maka ada kemudahan bagi sebgain ummat Islam yang masih melihat cahaya dan bayangan matahari pada saat Istiwaa’ a’dham.

Selengkapnya makna arah qiblat

 

Gambar: Denah Migrasi arah Qiblat 

July 11, 2007

Sejarah Ilmu Falak

Filed under: Artikel

Ilmu falak dikenal juga sebagai Ilmu Bintang atau Ilmu Astronomi, kata Falak bererti jalan/lintasan/peredaran yakni peredaran bintang-bintang.

Dalam surah Yaasin ayat 40 disebut bahawa: “(Dengan ketentuan yang diberikan oleh Allah) Matahari tidak mudah baginya mengejar bulan dan malam pula tidak dapat mendahului siang kerana tiap-tiap satunya beredar terapung-apung di tempat edarannya masing-masing”.

Pada zaman dahulu ilmu falak dikenal juga dengan Ilmu Nujum yang digunakan untuk meramal berlakunya peristiwa atau nasib. Di kalangan Sarjana Islam, Ilmu Bintang dibagi dua bagian yaitu :

1) Ilmu Tabi’ie (sains) yang membahas kedudukan bintang-bintang, pergerakannya dan ketentuan-ketentuan gerhana matahari dan bulan.

2) Ilmu yang membahas perhubungan pergerakan bintang-bintang dengan kelahiran, kematian, kebahagiaan dan kecelakaan, hujan, kesehatan dan lain-lain.

Ilmu yang pertama tadi dinamakan ilmu falak (Astronomi) dan ilmu yang kedua dinamakan Ilmu Astrologi (tanjim/nujum). Secara umum ilmu falak boleh diartikan sebagai ilmu yang membicarakan tentang matahari dan bintang-bintang yang beredar, besar kecilnya, jauh dekatnya dari matahari atau juga tentang cakrawala langit, gaya yg bekerja padanya, kedudukan pergerakannya dan lain-lain fenomena yang berkaitan.

Orang-orang Arab pada zaman dahulu pun mengetahui kedua bidang ilmu ini bahkan sejak zaman Jahiliah. Mereka memperolehi ilmu ini dari Yunani/Greek, Parsi, India dan Kaldan. Kemudian ilmu ini diwariskan kepada orang-orang Islam setelahnya.

Umat Islam pertama kali terlibat secara aktif dibidang Ilmu Sains termasuk ilmu falak pada zaman Kerajaan Umaiyah dan Abbasiah. Di zaman Umaiyah tokoh ilmu falak yang terkenal ialah Khalid bin Yazid Al-Amawi (meninggal 85H). Beliau dikenal dengan nama Hakim Ali Marwan. Beliau dianggap orang pertama yang menterjemahkan buku-buku termasuk buku-buku mengenai ilmu Bintang pada pertengahan kurun ke-4 Hijrah didapati dalam Perpustakaan Kaherah sebuah globe dari tembaga karya Batlamus yang ditulis kata-kata bahwa globe itu disediakan untuk Khalid bin Yazid.

Menurut pakar sejarah Al-Mas’udi bahwa Khalifah al-Malik bin Marwan sangat gemar kepada ilmu bintang sehingga ketika berperang belian membawa ahli ilmu bintang. Di zaman Abbasiah, Khalifah Abu Jaffar Al-Mansor adalah khalifah yang pertama memberi perhatian kepada kajian Ilmu Falak. Baginda mengeluarkan banyak belanja untuk memulai penyelidikan dalam bidang ilmu falak. Baginda mengumpulkan nama sarjana falak yang terkenal di istana Baginda. Dalam pembinaan Kota Baghdad baginda melantik seorang ahli falak bernama Naubakh sebagai Ketua Perancang Proyek itu.

Seterusnya perkembangan kajian ilmu falak berkembang pada zaman khalifah Al-Mansor. Usaha menterjemahkan buku Sdihanta dari bahasa Sanskrit ke Bahasa Arab dilakukan oleh Mohammad Al-Fazari yang kemudian ia diberi judul “Al-Sindhindin Al-Kabir”. Buku ini menjadi panduan utama kepada orang-orang arab dalam mengkaji ilmu falak hingga ke zaman Al-Makmun.

Mohammad Al-Fazari merupakan orang Islam yang pertama mencipta astrolabe (jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang). Buku ini telah disalin ke bahasa Latin pada abad pertengahan oleh Johannes de Luna Hispakusis. Buku terjemahan ini telah digunakan oleh universitas-universitas Eropa untuk mengejar Ilmu Bintang.
Dari sinilah orang-orang Barat pertama kali mengetahui benda-benda di cakerawala.

Tokoh-tokoh Ilmu Falak Islam di zaman Abbasiah ialah Abu Sahl bin Naubakh, Ali bin Isa dan Masyaallah yang dikenal sebagai Phoenix pada zamannya. Dalam proyek pembinaan Kota Baghdad telah didirikan sebuah ‘observatorium’ (balai ilmu). Di zaman Al-Makmun telah muncul ramai sarjana-sarjana Falak antaranya Thabit bin Qurrah, Al-Battani dan Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.

Di zaman Al-Makmun juga telah didirikan sebuah ‘observatorium’ yang digunakan untuk mengukur daya cahaya matahari. Di zamannya juga Ahli Falak berjaya mengukur longkaran bumi sebuah ‘observatorium’ yang didirikan di Bukit Gaisun di Damsyek. Di zamannya juga observatorium juga didirikan di Bukit Qaisun. Di Damsyik. Di zamannya juga telah diterjemahkan Alomagest karangan mengenai Ptolemeus ke bahasa Arab. Ahli Falak Islam juga telah mengamati equinox, gerhana bintang berekor (comet) dan lain-lain gejala di langit.

Di samping itu Al-Battani (wafat kira-kira 930M/317H) telah melakukan penyelidikan tentang perbintangan sejak tahun 877 hingga 918M dan bukunya yang telah disalin ke bahasa Latin disusun semula dalam bahasa Arab oleh Nallino (tahun 1903M). Al-Battani telah membagi sehari kepada 12 jam yang digunakan sekarang oleh tukang-tukang jam di Eropah. Beliau juga telah berjaya mengira setahun bersamaan dengan 356 hari, 5 jam 46 saat dan 24 secant yaitu kurang dalam pengiraan sekarang sebanyak 2 saat 23 secant.

Al-Battani menduduki tempat tertinggi di kalangan Ahli Bintang dan dikatakan peranannya di kalangan umat Islam sama dengan peranan Ptolemeus di kalangan orang-orang Yahudi. Di zaman-zaman seterusnya lahir tokoh-tokoh Islam yang meneruskan kajian-kajian yang dilakukan oleh al-Battani dan tokoh-tokoh lain dan telah menghasilkan berbagai-bagai kejayaan kepada Ilmu Falak.

Tokoh-tokoh Ilmu Falak yang terkenal pada kurun ke-7 Hijrah ialah Nasiruddin al-Tusi yang hidup di zaman Hulagu Khan seorang Raja Monggol. Al-Biruni (362H-442H) pula merupakan seorang ahli Falak yang terkenal di zaman Sultan Mahmud al-Ghaznawi. Beliau telah meninggalkan berbagai-bagai hasil karya yang antara al-Athar al-Baqiah yang diterjemahkan ke bahasa Inggeris oleh Dr. Sachan. Di zaman Kerajaan Turki Saljuk telah muncul seorang sarjana Falak terkenal iaitu Umar al-Khayyam. Kawannya ialah Abdul Rahman al-Hazimi. Sebenarnya kemasyhuran sarjana-sarjana Falak Islam merebak setiap sudut alam. Mereka menjadi tempat rujuk ilmu Falak. Wilayah Islam yang menjadi tumpuan rujukan Eropa ialah wilayah Andalus (Sepanyol) kerana berdekatan dengan mereka.

Fakta di atas adalah semata-mata untuk menunjukkan betapa umat Islam di zaman kegemilangan, telah menumpukan tenaga yang banyak untuk menguasai ilmu-ilmu sains yang hasilnya telah dirasakan oleh seluruh umat manusia. Kejayaan mereka itu adalah menunjukkan betapa Islam telah menjadi suatu sumber utama bukan saja dari segi panduan hidup tetapi juga dari segi Ilmu Pengetahuan. Inilah semangat yang hendak dibangkitkan di kalangan kita umat Islam.

Sumber Tulisan.

July 4, 2007

Hisab-Rukyat: Media Pendidikan Sains Santri

Filed under: Artikel

Setiap menjelang awal Ramadhan, perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri puasa seakan menjadi pertanyaan yang tidak kunjung usai. “Persaingan” antara hisab versus rukyat dalam menentukan awal bulan Hijriah bagaikan menu rutin yang banyak dibicarakan orang.

Disadari atau tidak, permasalahan tersebut merupakan bagian dari kehidupan bangsa ini. Oleh karena itu, memahami akar permasalahan yang ada dapat membantu dalam menentukan sikap.

Hisab yang berarti menghitung dan rukyat yang berarti melihat, dalam arti sempit, merupakan sebuah cara yang digunakan untuk menentukan masuknya awal bulan Hijriah, seperti Ramadhan dan Syawal.

Dalam pandangan masyarakat luas, keduanya merupakan dua metode yang saling bertolak belakang. Padahal, dari sudut pandang astronomi, hisab dan rukyat bagaikan dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Pandangan masyarakat luas tersebut mungkin dikarenakan kedua konsep tersebut digunakan oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dalam pemahaman umum, diakui atau tidak, pendapat/ajaran yang berasal dari kedua ormas tersebut sering kali “bertentangan”.

Sebuah metode

Hisab dalam arti luas dapat diterjemahkan sebagai sebuah metode atau sistem perhitungan yang diperoleh dari penalaran analitik maupun empirik. Sedangkan rukyat dapat diterjemahkan sebagai sebuah pengamatan sistematik yang didasarkan atas data yang ada.

Hisab bukanlah sebuah metode yang muncul secara tiba-tiba. Sebab, adanya hisab diawali dari rukyat yang panjang. Benar tidaknya sebuah hisab tentunya harus diuji secara langsung melalui pengamatan (rukyat) terhadap fenomena alam yang dihisab. Sebagus dan sebaik apa pun sebuah metode hisab, jika tidak sesuai dengan fenomena yang dihisab tentu tidak dapat dikatakan benar.

Demikian juga halnya dengan rukyat. Pelaksanaan rukyat yang tidak pernah menghasilkan sebuah sistem atau metode perhitungan (hisab) yang dapat membantu dalam pelaksanaan rukyat berikutnya merupakan rukyat yang sia-sia. Karena, apa yang dilakukan hari ini tidak lebih baik daripada apa yang pernah dilakukan.

Oleh karena itu, kombinasi hisab dan rukyat merupakan kombinasi harmonis agar ilmu falak di Indonesia dapat berkembang. Sesuai dengan asalnya, ilmu falak—yang tidak lain merupakan bagian dari astronomi—modern saat ini merupakan observational sains.

Sebuah observational sains merupakan sains yang berkembang atas dasar pengamatan. Dengan kata lain, menafikan rukyat—yang notabene merupakan proses pengamatan—bagaikan menghilangkan ruh dari jasad. Hal ini bahkan dapat mengakibatkan ilmu falak menjadi sesuatu yang tidak menarik dan sulit untuk dipahami.

Kecenderungan itu dapat dilihat dari pandangan kaum santri di pesantren, yang umumnya dari kalangan NU, bahwa ilmu falak merupakan ilmu yang sulit dan tidak menarik. Hal ini bisa diakibatkan karena rukyat jarang—bahkan tidak pernah—dipraktikkan kecuali ketika menjelang awal dan akhir Ramadhan.

Pelaksanaan rukyat hilal

Rukyat hilal dilaksanakan setiap tanggal 29 pada bulan Hijriah menjelang matahari tenggelam. Hasil yang diperoleh merupakan penentu masuknya awal bulan baru. Untuk menentukan awal Ramadhan 1427 H, rukyat dilaksanakan pada tanggal 29 Sya’ban 1427 H, bertepatan dengan 22 September 2006.

Jika rukyat memberikan hasil positif, maka pada malam itu telah masuk tanggal 1 Ramadhan 1427 H dan shalat tarawih dapat dilaksanakan. Dan, jika tidak memberikan hasil, maka keesokan harinya adalah tanggal 30 Sya’ban dan awal puasa Ramadhan bertepatan dengan 22 September 2006.

Sayangnya, berdasar data astronomi yang dihasilkan dari metode yang sudah teruji keakuratannya, hilal pada tanggal 22 September 2006 tersebut tidak dapat dirukyat. Hal ini dikarenakan hilal sendiri—yang didefinisikan sebagai sabit pertama yang terlihat setelah konjungsi—belum terbentuk. Hal ini menjadikan tanggal 1 Ramadhan 1427 H bertepatan dengan 24 September 2006.

Senada dengan permasalahan awal Ramadhan 1427 H, hilal awal Syawal juga masih mustahil untuk dirukyat pada 29 Ramadhan 1427 H (22 Oktober 2006). Hal ini bukan dikarenakan hilalnya belum terbentuk, melainkan hilal tersebut berada jauh dari batas kriteria visibilitas yang ada.

Secara teori, hilal memang sudah terbentuk, tetapi posisinya yang sangat dekat (kurang dari 1 derajat) dengan matahari menjadikannya mustahil untuk disaksikan. Oleh karena itu, berdasar visibilitas hilal, dapat diprediksikan bahwa 1 Syawal 1427 H seharusnya bertepatan dengan 24 Oktober 2006.

Pelaksanaan rukyat hilal seperti di atas didasarkan pada tuntunan Nabi Muhammad SAW yang tertuang dalam banyak hadis. Di antaranya adalah perintah dalam mengawali dan mengakhiri puasa bila hilal telah dapat dirukyat. Pengertian rukyat tersebut kemudian berkembang. Sebagian ulama menerjemahkannya dengan rukyat bi ilm alias hisab.

Berdasar pemahaman ini, meski hilal belum terlihat tetapi telah terbentuk, awal bulan dapat ditentukan. Pemaknaan ini yang diikuti oleh ormas Muhammadiyah dan Persis, meskipun keduanya berbeda dalam penggunaan kriteria awal bulan.

NU pada mulanya hanya berpegangan pada hasil rukyat semata. Akan tetapi, seiring perjalanan waktu, NU mulai menerima hisab sebagai pemandu dalam pelaksanaan rukyat. Saat ini NU menggunakan kriteria imkan rukyat yang disepakati oleh negara-negara Mabims, yang beranggotakan Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Sengaja NU tidak mengeluarkan kriteria imkan rukyat yang unik karena hanya akan menyebabkan perbedaan yang semakin lebar. Dengan mengikuti kriteria imkan rukyat yang disepakati bersama tersebut diharapkan kesatuan dapat terwujud. Bukankah perbedaan yang ada hanya dapat dijembatani dengan kesepakatan bersama? Jika kesepakatan itu dilanggar, maka kesepakatan perbedaan tersebut akan selalu terjadi dan berulang.

Pemanfaatan hisab-rukyat

Perbedaan yang selalu terjadi tentunya akan membuat masyarakat semakin heran dan bertanya-tanya, mengapa dalam permasalahan awal bulan ulama panutan kita tidak dapat bersepakat? Oleh karena itu, pendidikan publik melalui diskusi dan seminar merupakan kebutuhan yang selayaknya diselenggarakan.

Hanya saja, diskusi dan seminar yang ada selama ini umumnya baru mencoba mempertemukan dua kubu dengan membahas landasan hukum yang selama ini dianggap bertentangan. Akibatnya, hasil akhir dari diskusi dan seminar selalu dikembalikan pada keyakinan hati masing-masing untuk mengikuti konsep dan kaidah yang ada.

Pada dasarnya, hisab dan rukyat—di samping sebagai bagian dari hukum fikih yang memang mengandung banyak perbedaan pendapat—merupakan bagian dari sains. Oleh karena itu, pemanfaatan unsur sains “hisab-rukyat” tersebut untuk pembelajaran kiranya dapat menumbuhkan minat dan ketertarikan siswa/santri untuk mempelajari ilmu falak lebih jauh.

Permasalahan arah kiblat, waktu shalat, dan kalender melibatkan konsep matematika, fisika, dan astronomi yang menarik untuk dikaji. Perhitungan arah kiblat, misalnya, pada dasarnya merupakan permasalahan konsep segitiga bola yang penuh dengan konsep trigonometri.

Adapun perhitungan waktu shalat sangat terkait dengan pergerakan matahari. Tentunya menarik jika dalam menghitung waktu shalat tersebut juga dikaitkan dengan pengamatan matahari dan mencoba memahami proses hantaran panas dari matahari hingga ke bumi. Begitu juga halnya dengan hilal yang sering mengundang tanda tanya dapat dimanfaatkan untuk mencoba melihat secara geometri bagaimana hilal dapat terbentuk.

Persiapan rukyat dan mengukur posisi hilal juga merupakan aktivitas yang saintifik karena diperlukan pengetahuan arah, sudut, dan panjang dalam pelaksanaan rukyat hilal. Dari ragam kegiatan sains hisab-rukyat tersebut diharapkan siswa/santri lebih memahami fenomena alam yang terjadi sehingga dapat menentukan sikap berdasar bekal pengetahuan yang dimilikinya.

_____________
Salam:
Hendro Setyanto
Observatorium Bosscha-FMIPA ITB, Biro Pengembangan dan Penelitian Lajnah Falak NU

June 28, 2007

Makna Arah Kiblat

Filed under: Artikel

Kiblat pertama Muslimin menuju ke arah Baitul Maqdis. Akan tetapi, karena orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai bahan ejekan; dan selalu berkata :” Kalian Muslimin tidak memiliki agama yang tetap, oleh sebab itu kalian berdiri menghadap kiblat kami”.

Allah SWT Maha Mengetahui, sehingga tidak sekedar ejekan Yahudi, hikmah yang bisa kita petik dari pemindahan arah kiblat ini, namun juga secara geografis, andai kiblat tetap di Majidil Aqsha di Palestina; saat ini kita akan kesulitan menentukan arah kiblat.

Masjidil Aqsha berada di lokasi dengan koordinat LU sebesar 31°46′ 40.93″. Garis ini jelas tidak dilalui matahari saat MIHADAA, sebab paling pol (mentok) matahari akan melewati pada garis Lintang Utara tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU. Jadi mustahil kita menentukan arah kiblat dengan melihat bayangan matahri.

Ka’bah di Masjidil Haram kota Mekkah, berada di garis koordinat 21°25′20.94″ Lintang Utara. Garis ini di bawah 23.5° LU batas matahari melakukan Mihaadaa-nya. Jadi setiap 28 Mei dan 16 juli sore hari sekitar 16:20 menit waktu GMT+7, kita dapat menentukan arah kiblat yang cukup akurat namun mudah.

Gambar di bawah adalah lokasi Qiblat semula dan kini (by: Google Earth).

Gambar di bawah adalah Qiblat Pertama (model 3D by: Google Earth):

Maka dengan perintah Allah SWT kiblat tersebut diubah dari Baitul Maqdis ke Mekah. Setelah itu, orang-orang Yahudi mengajukan kritikan lain, yaitu bahwa jika kiblat yang pertama benar, maka kenapa kalian mengubahnya; dan jika kiblat kedua yang benar, maka salat kalian selama mengghadap kiblat pertama, adalah sia-sia.

Gambar di bawah adalah Qiblat saat ini dan seterusnya (model 3D by: Google Earth):

Akhir2 ini saya sering mendapat pertanyaan perihal arah kiblat yang benar. Dalam obrolan, sebagian mengatakan asal menghadap barat cukup, sebagian lain kiblat itu maknanya banyak…dst. Saya ndak habis pikir mengapa ini bisa terjadi. Sepertinya ini fenomena gunung es kesalahan dalam memahami makna dan hakekat kita diperintahkan menghadap kiblat.

Kalau menghadap kiblat (titik ka’bah) dianggap sepele, maka mengapa kiblat semual ke masjidil aqsha dipindah ke masjidil haram? disana ada hikmah sehingga kita bisa menentukan arah kiblat dengan mudah cukup melihat bayangan matahari. Dan saya yakin hikmah lainnya pasti ada. Dan dasarnya pun amat jelas dan kuat kalau ka’bah itu pusat dan ’sasaran’ pandangan ummat islam ini.

Firman Allah SWT dalam QS.5 (Al-Maidah):97 yang artinya:
“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia”.

Karena pusat, maka menurut Agus Musthofa dalam bukunya “Pusaran Energi Ka’bah”, ka’bah akan memiliki power yang amat besar sebagai akibat dijadikannya ka’bah ini kiblat umat islam, dalam sholat, dan amal ibadah lainnya.

Kita sholat selalu mengikuti gerak matahari. Misal di Yogya saya sholat dhuhur, maka selang beberapa jam di wilayah barat juga akan sholat dhuhur, dan saat itu saya sudah masuk sholat ashar, dan begitu seterusnya, karena matahari bergerak ke barat.

Bila semua ummat islam dalam sholat, dalam dzikir, dalam menguburkan jenazah dan amalan2 lainnya; maka praktis semua energi akan mengarah ke barat ke titik yang sama yakni ka’bah. Kata Pak Agus Musthofa ini akan mengakibatkan perpedaan potensial energi yang amat tinggi antara Ka’bah dan tempat2 di bumi yang dihuni ummat islam. Dan bisa dibayangkan betapa besarnya energi yang terpancar dai Ka’bah akibat berbagai aktifitas di tadi.

Tentang arah kiblat ada yang pernah berkata, ‘Walau menghadap ke timur, khan nanti juga kembalinya ke ka’bah juga.’ Pendapat ini jelas tidak faham posisi dan koordinat tempat di permukaan bumi. Beralasan asal menghadap cukup, saya pikir ini salah besar. Ibarat
tali yang diikatkan ke globe bumi, bila salah satu bagian tali mengenai koordinat ka’bah, pasti
dimanapun posisi orang asal searah (dan mengambil jarak terdekat) pasti arahnya tepat.

Sebaliknya kalau sebagian tali tidak menyentuh koordinat ka’bah, ya…mustahil arahnya akan menuju ka’bah meski berjarak pandang ke ka’bah, apalagi berbeda negara berbeda benua dst.

Pak Ma’rufin - DP JAC, menjabarkan salah satu hikmah yang bisa diambil dari seputar kiblat dan pemindahannya dari al-Aqsa ke Ka’bah.

Salah satunya misalnya dari sudut pandang geologi. Kota Makkah dan hampir keseluruhan Tanah Hijaz itu berdiri di atas bagian kerak Bumi yang sudah sangat tua dan stabil, dan dikenal sebagai Arabian-Nubian Shield. Disini sangat jarang terjadi gempa. Beda dengan Jerusalem, yang berdiri di atas lintasan patahan besar Laut Mati, yang membentang dari Teluk Aqaba di barat daya hingga Pegunungan Taurus dan Van di Turki. Patahan besar ini masih aktif dan berulang kali menjadi generator gempa merusak sepanjang sejarahnya.

Salah satu gempa yang fenomenal (dan kontroversial) terjadi sekitar 2150 BCE ketika segmen
barat daya Laut Mati terpatahkan dan terdeformasi sehingga digenangi air Laut Mati. Gempa ini konon disertai letusan paroksimal (besar-besaran) gunung api yang bekas-bekasnya masih bisa dijumpai di dekat Bashan (Yordania) dan kemungkinan menghasilkan proses tektono-vulkanik. Kombinasi gempa dan letusan ini yang disebut-sebut menghancurkan kota Sodom, Gomorrah dan 5
pusat pemukiman lainnya yang menjadi hunian umat Nabi Luth AS. Apakah al-Aqsa bisa terkena gempa di masa mendatang? Kemungkinan itu sangat terbuka.

Bener, patahan besar Laut Mati sendiri akhirnya berlanjut ke Laut Merah yang berada di tengah
Arabian-Nubian Shield, membentuk Great Rift Valley, lembah terpanjang di Bumi (4.000-an km) yang membentang dari kaki Pegunungan Taurus hingga ke Danau Tanganyika di tengah Afrika. Namun patahan Laut Merah ini bersifat divergen dan tengah berproses menjadi mid oceanic ridge.

Divergensi ini telah ‘memekarkan’ Laut Merah secara perlahan selama 25 juta tahun terakhir
hingga Laut Merah kerap disebut ‘embrio samudra’, sama seperti Selat Makassar di Indonesia, hanya saja di Selat Makassar aktivitas pembukaannya sudah terhenti.

Pada patahan divergen ini aktivitas kegempaan tetap ada, namun lebih lemah dibandingkan patahan transformasi maupun zona subduksi. Dan patahan divergen ini juga tidak melintas langsung di Makkah, sehingga peluang Ka’bah terkena guncangan yang merusak dari gempa (yang misalnya) diproduksi oleh patahan divergen ini cukup kecil.

Memang, kelak ketika aktivitas pemekaran Laut Merah terus berlanjut, benturan mikrolempeng-mikrolempeng dasar Laut Merah vs Arabian Shield akan menghasilkan subduksi, dimana continental slope Arabian Shield akan terpatahkan ke atas (thrust) sementara mikrolempeng
tadi bergerak menunjam ke asthenosfer. Subduksi ini biasanya akan terbentuk dalam rentang jarak yang sangat besar sehingga kerap disebut megathrust. Kapan waktunya? Masih lama. Berkaca pada inisiasi subduksi lempeng India vs mikrolempeng Burma di segmen Simeulue, dibutuhkan waktu 50 juta tahun dari saat kedua lempeng mulai berinteraksi hingga subduksi terjadi, yang baru terdeteksi ketika terjadi gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 silam. So, subduksi laut Merah mungkin baru terjadi sekitar 25 juta tahun mendatang.

Soal shalat mau menghadap ke mana, apa mau ke arah kiblat persis ataukah cukup ke barat (untuk kasus Indonesia), ya memang tergantung tiap orang. Namun, ketika metode untuk menentukan arah kiblat sudah ada, bahkan beragam, sementara alat-alat juga sudah tersedia, bahkan cara yang paling mudah dan murah pun sudah diperkenalkan, tidak terlalu sulit toh menghadapkan diri ke kiblat?

Berikut beberapa masjid yg sempat saya lihat validitas kiblatnya via QiblaLocator Ibnu Mas’ud:
1. Masjid Asy-Syakirin, Kualalumpur Malaysia:

2. Masjid Kampus UGM Yogyakarta Indonesia:

3. Masjid Syuhada Yogyakarta Indonesia:

4. Masjid Raya Bantul Yogyakarta Indonesia (masih kurang serong ke utara):

5. Masjid Kauman Salatiga Indonesia:

dan lain-lain.

Gambar berikut contoh masjid yg menghadap tidak (serong) ke arah kiblat, namun shof di dalam masjid diatur sehingga sholat jama’ah tetap menghadap kiblat:
1. Masjid Syuhada Yogyakarta Indonesia:

2. Masjid Agung Kauman (Alun-alun) Yogyakarta Indonesia:

Tetapi saya lupa, apakah di dalamnya arah shof sudah diarahkan ke kiblat belum…semoga sudah.
Nah, masjid PPMI Assalaam mengalami kasus serupa Masjid Agung Kauman DIY ini. [pakar]

June 22, 2007

Garis Balik Utara

Filed under: Artikel, Laporan

Kemarin tepat tgl 21 Juni 2007, matahari tepat berada di garis balik utara (GBU) yakni garis lintang utara pada titik 23.5°. Matahari akan kembali bergerak menuju ke tengah lalu ke salatan. Dan setelah itu kembali ke semula….terus menerus sampai hari kiamat.

Tetapi pergerakan ini sebenarnya menurut pengamatan kita di bumi saja, sebab yang terjadi menurut ilmu astronomi, justru bumi ini lah yang bergerak. Gerakan bumi ini mengakibatkan posisi matahari yang terlihat dari bumi seolah bergeser utara-selatan terus-menerus. Gerakan bumi ini karena efek dari medan gravitasi antar kutub bumi dan matahari. Gerak ini juga akibat gerak revolusi bumi mengelilingi matahari. Revolusi bumi mengakibatkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Gerak semu matahari.

Karena sebab bumi mengelilingi matahari (revolusi bumi), maka matahari seakan-akan bergerak mengelilingi bumi. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Dalam peredaran semu tersebut matahari memerlukan waktu satu tahun untuk menyelesaikan satu putara penuh dan lintasan matahari yang dilalui disebut ekliptika.

2. Pergeseran matahari antara GBU dan GBS.

Matahari sepanjang tahun mengalami pergeseran ke utara dan ke selatan, yakni pada:
a. tanggal 21 Maret, tepat beredar di khatulistiwa. Matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
b. tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU.
c. tanggal 23 September, tepat berada di khatulistiwa lagi, matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
d. tanggal 22 Desember, tepat berada di lintas 23.5° LS.

Pergeseran matahari seperti ini, merupakan akibat bumi berevolusi mengelilingi matahari dan sumbu rotasinya membentuk sudut 47° terhadap bidang ekliptika dengan kemiringan tetap.

Bila kita pandang dari arah atas kepala kita (yg tinggal di indonesai) saat matahari terbit atau terbenam, seolah matahari yang sangat besar itu mendorong bumi yang kecil ke utara lalu ke selatan terus-menerus sebagai akibat perbedaan polar magnetik kedua benda angakasa itu.

3. Perubahan lama siang dan malam.

4. Pergantian musim.

Wa Allahu a’lamu…[pakar]

June 16, 2007

Sabit Tua Jumadil Ula 1428 H

Filed under: Artikel, Laporan

Mau pake hisab atau rukyat? Pertanyaan jenis ini sering muncul ketika mengulas penanggalan Hijriyyah, terutama menyangkut penentuan awal Ramadhan, awal Syawwal (Idul Fitri) dan awal
Dzulhijjah (yang menjadi patokan bagi Idul Adha).

Dalam realitanya publik memang ‘terbelah’ dalam menyikapi penanggalan Hijriyyah ke dalam dua kutub : hisab dan rukyat, yang seakan-akan saling berhadapan secara diametral dan tidak bisa dicari titik temunya. ” Akan terus berbeda sampai hari Akhir, ” begitu gurauan pak Najib, sahabat saya yang hakim agama dan hampir tiap tahun puyeng ditanya-tanya soal ini.

Kepuyengan semacam ini tentunya tak perlu terjadi jika saja kita mengetahui antara hisab dan rukyat sebenarnya adalah dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Bahwa persoalan sebenarnya terletak pada definisi kita tentang “hilaal”. Dan jika definisi hilaal ini sudah tercapai titik temunya, maka hisab dan rukyat akan memberikan hasil yang sama. Ini bisa dianalogikan dengan menentukan waktu shalat dhuhur, misalnya. Karena definisi untuk awal shalat dhuhur sudah disepakati, yakni saat transitnya Matahari di meridian setempat (atau dengan bahasa sederhana, jika bayang-bayang tongkat lurus yang disinari cahaya Matahari tepat sejajar dengan arah utara-selatan sejati), maka baik menentukan waktu dhuhur dengan bayangan Matahari maupun murni berdasarkan tabulasi jadwal shalat, hasilnya sama saja. Mengapa bisa demikian? Ya karena astronomi adalah cabang ilmu dengan tingkat akurasi yang demikian tinggi khususnya ketika menelaah pergerakan Matahari dan Bulan.

Belum adanya definisi bersama tentang hilaal lebih disebabkan oleh kurangnya data. Jika Matahari hampir setiap hari bisa diamati, maka Bulan (khususnya pada fase sangat kecil seperti hilaal) hanya muncul pada waktu-waktu tertentu. Selama ini, di Indonesia, observasi hilaal hanya dilakukan maksimum 4 kali oleh para pengamat (1 waktu tambahan pada saat menentukan awal Muharram). Jumlah yang kurang ini masih ditambah dengan bias-nya kesimpulan terhadap hasil observasi,
dimana pengamat belum bisa membedakan apakah yang diamatinya benar-benar merupakan hilaal ataukah sumber cahaya lain baik di latar belakang (seperti Merkurius, Venus dan beberapa bintang terang) maupun latar depan (pantulan cahaya Matahari di awan, lampu mercusuar,
lampu kapal dll).

Peredaran Bulan mengelilingi Bumi membuat fase (baca : wajah) Bulan bersifat siklik, sehingga Bulan dengan fase sangat kecil selalu muncul pada dua kesempatan yang berbeda : beberapa belas jam setelah konjungsi (dikenal dengan sabit muda/hilaal) dan beberapa belas jam sebelum konjungsi (dikenal dengan istilah sabit tua). Karena dalam setahun Hijriyyah terdapat dua
belas lunasi, maka dalam setahun Hijriyyah terdapat 2 x 12 = 24 kesempatan untuk mengobservasi Bulan dalam fase sebagai hilaal ataupun sabit tua, sehingga data akan visibilitas hilaal/sabit tua bisa bertambah.

Dalam konteks tersebut, kami melakukan observasi sabit tua yang menandai akhir lunasi Jumadil Ula 1428 H, mengambil lokasi di Kompleks Islamic Centre Kebumen (7deg 40min LS 109deg 38min BT, 21 m dpl) menjelang fajar 14 Juni 2007. Tanggal ini dipilih karena pada fajar 15 Juni 2007 (tanggal terjadinya konjungsi), tinggi Bulan dan Matahari hampir sama sehingga secara teknis tidak mungkin saat itu sabit tua bisa diamati. Dari titik pengamatan, sabit tua diestimasikan muncul di lokasi Bukit Wonokromo, salah satu horst dari patahan Kedungbener sehingga secara teknis sabit tua baru bisa diamati jika ketinggiannya melebihi 3 derajat.

Observasi dilakukan dengan mata telanjang. Beberapa citra diambil dengan digicam DSC U-20 2 megapixel tanpa zoom. Sebagai petunjuk waktu dipakai internal clock ponsel Siemens C-45 yang telah dikalibrasi dengan 103-nya Telkom. Alat bantu lain yang digunakan adalah tabel tinggi Bulan vs waktu lokal (dalam WIB) yang diderivasikan dari MoonCalc v4.0 yang diset toposentrik, mengabaikan refraksi atmosfer dan kondisi sunrise/sunset geometrik. Lewat MoonCalc v4.0 juga
diketahui saat Matahari terbit (05:54 WIB) Bulan memiliki elemen : tinggi=14,38 derajat; azimuth=59,95 derajat (azimuth relatif= -6,63 derajat terhadap Matahari); elongasi=15,97 derajat; magnitude visual= -5,66; fase=2,2 %; lebar sabit=0,6 menit busur dan umur Bulan 28,3 jam sebelum konjungsi. Umur sabit (yakni waktu terbit Bulan dikurangi waktu terbit Matahari) adalah 70 menit. Sehingga dengan formula “best time” Yallop, sabit tua ini akan nampak sampai pukul 05:23 WIB.

Meski bulan Juni 2007 tergolong dalam musim kemarau, saat pengamatan ternyata lebih dari separuh langit timur tertutupi awan Cumulus yang secara perlahan bergerak ke utara. Namun di atas Bukit Wonokromo langit sempat relatif lebih bersih untuk beberapa saat. Ketika tiba di lokasi pengamatan (pukul 05:05 WIB) sabit tua sudah terlihat ‘mengapung’ di atas Bukit Wonokromo dengan cahaya cukup samar, dan lebih ke atas lagi nampak Mars yang kemerahan dan lebih
samar lagi. Selain sabit tua dan Mars, tidak ada lagi benda langit lain yang nampak. MoonCalc v4.0
menunjukkan saat itu tinggi sabit tua adalah 4 derajat.

Sabit tua hanya nampak sebagai goresan tipis dengan cahaya yang pucat tanpa bentuk lengkungan sabitnya yang khas. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tebalnya awan di latar depan sabit tua. Jika tidak dilihat dengan cermat, sabit tua saat itu tidak berbeda dengan bintang. Namun peta langit timur dari Starry Night Backyard v3.1 menunjukkan di sekitar sabit tua hanya ada alpha Tauri (Aldebaran) dan alpha Persei (Mirfak). Berdasar Steve Moshier’s Ephemeris Program v5.6, tinggi alpha Tauri (magnitude visual +0,8) adalah 1,4 derajat dan secara teknis masih tertutupi Bukit Wonokromo. Sementara alpha Persei memiliki tinggi 7,5 derajat namun dengan magnitude
visual +1,8 (2,5 kali lebih gelap dibanding alpha Tauri dan 965 kali lebih gelap dari sabit tua), dengan analogi pengalaman pengamatan kami terhadap Sirius, maka pada kondisi awan saat itu tidak mungkin alpha Tauri terlihat mata telanjang.

Sabit tua hanya nampak hingga pukul 05:09 WIB, ketika awan Cumulus mulai berarak menutupinya. Hingga pukul 05:54 kondisi tidak berubah. Kondisi ketika sabit tua terakhir terlihat masih gelap, sehingga citra sabit tua tidak tertangkap oleh digicam. [Ma’rufin S]

May 24, 2007

Hari Arah kiblat

Filed under: Artikel

Cara Mudah Menentukan Arah Kiblat

“Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka’bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali
lalai akan segala apa yang kamu lakukan.” ( QS. Al-Baqarah : 149 )

“ Baitullah ( Ka’bah ) adalah kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram ( Makkah ) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi, Timur dan Barat dari umatKu” ( Hadith Riwayat Al-Baihaqi )

..

Dalam ajaran Islam, mengadap ke arah kiblat ( Masjidil Haram / Ka’bah ) adalah suatu tuntutan syariah di dalam melaksanakan ibadah tertentu, ia wajib dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah orang Islam, ia juga
merupakan sunah ketika azan, berdoa, berzikir, membaca Al-Quran, menyembelih binatang dan sebagainya.

Berdasarkan tinjauan astronomis atau falak, terdapat beberapa teknik yang
dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat antaranya menggunakan kompas,
theodolit, rasi bintang serta fenomena transit utama matahari di atas kota Mekkah yang dikenal dengan istilah Istiwa A’zam (Istiwa Utama). Di kalangan pesantren di Indonesia istilah yang cukup dikenal adalah “zawal” atau “rashdul qiblat”.

..

Di atas Ka’bah matahari tepat berada di titik Zenith saat Istiwa A’zam.
Istiwa adalah fenomena astronomis saat posisi matahari melintasi meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu
shalat Zuhur. Pada saat tertentu di sebuah daerah dapat terjadi peristiwa
yang disebut Istiwa Utama atau ‘Istiwa A’zam’ yaitu saat posisi matahari berada tepat di titik Zenith (tepat di atas kepala) suatu lokasi.

Namun peristiwa ini hanya terjadi di daerah antara 23,5˚ Lintang Utara dan
23,5˚ Lintang Selatan. Istiwa Utama yang terjadi di kota Makkah dimanfaatkan oleh kaum Muslimin di negara-negara sekitar Arab khususnya yang berbeda waktu tidak lebih dari 5 (lima) jam untuk menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan
teknik bayangan matahari. Istiwa A’zam di Makkah terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 Waktu Makkah dan 16 Juli sekitar pukul 12.26 Waktu Makkah. Fenomena Istiwa Utama terjadi akibat gerakan semu matahari yang
disebut gerak tahunan matahari (musim) sebab selama bumi beredar mengelilingi matahari sumbu bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun terlihat di bumi matahari mengalami pergeseran 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Saat nilai
azimuth matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa Utama yaitu melintasnya matahari melewati zenith.

SENIN, 28 MEI 2007 @ 16:18 WIB
MATAHARI DI ZENITH KOTA MAKKAH
ARAH MATAHARI = ARAH KIBLAT

Teknik penentuan arah kiblat menggunakan Istiwa Utama sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan beberapara negara-negara Islam yang lain juga banyak menggunakan teknik ini. Sebab
teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebilah tongkat dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar
matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa Utama tersebut simak bayangan yang terjadi.

Karena di negara kita peristiwanya terjadi pada sore hari maka arah bayangan tongkat adalah ke Timur, sedangkan arah bayangan sebaliknya yaitu yang ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang benar. Cukup sederhana dan tidak
memerlukan ketrampilan khusus serta perhitungan perhitungan rumus-rumus. Jika hari itu gagal karena matahari terhalang oleh mendung maka masih diberi roleransi penentuan dilakukan pada H-1 atau H+1. Saat matahari di atas Ka’bah semua bayangan matahari mengarah ke sana.

Penentuan arah kiblat menggunakan teknik seperti ini memang hanya berlaku untuk daerah-daerah yang pada saat peristiwa Istiwa Utama dapat melihat secara langsung matahari dan untuk penentuan waktunya menggunakan konversi waktu terhadap Waktu Makkah. Sementara untuk daerah lain di mana saat itu matahari sudah terbenam
misalnya wilayah Indonesia bagian Timur praktis tidak dapat menggunakan teknik ini. Sedangkan untuk sebagian wilayah Indonesia bagian Tengah barangkali masih dapat menggunakan teknik ini karena posisi matahari masih mungkin dapat terlihat. Namun
demikian masih ada teknik lain yang juga menggunakan bayangan matahari untuk menentukan arah kiblat dari suatu tempat di seluruh permukaan bumi yang akan dibahas nanti pada artikel berikutnya.

Berdasarkan perhitungan astronomis menggunakan program Simulator Planetarium Starrynight diperoleh posisi matahari secara presisi saat terjadinya Istiwa Utama di Makkah tahun 2007 ini. Pertama, tanggal 28 Mei 2007 pukul 09:18:37 GMT atau 12:
18:37 Waktu Makkah atau 16:18:37 WIB kedua tanggal 16 Juli 2007 pukul 09.26 GMT atau 12.26 Waktu Mekkah (GMT+3) atau 16.26 WIB (GMT+7) dengan posisi matahari berada di azimuth 294° 42.792′ dan ketinggian (altitude) 14° 37.9′. Seperti tertera pada gambar di bawah ini.

Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Istiwa Utama :
1. Tentukan lokasi masjid/mushalla/langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya. Sediakan tongkat lurus sepanjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk
memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet.

2. Cari lokasi di samping atau di halaman masjid yang mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar dan pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul.

3. Tepat pada saat istiwa a’zam terjadi amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2 menit). Di Indonesia peristiwa Istiwa Utama terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke Timur. Sedangakan bayangan yang menuju ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang tepat.

4. Gunakan tali, tembok atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid / rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah
bayangan. Tidak hanya tongkat yang dapat digunakan untuk melihat bayangan. Menara, gedung, tiang listri, tiang bendera atau benda-benda lain yang tegak. Atau dengan teknik lain misalnya bandul yang kita gantung menggunakan tali sepanjang 1 meter
maka bayangannya dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat.

Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada
baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Dan juga melakukan penentuan arah kiblat tidak mutlak harus dilakukan pada tanggal tersebut bisa saja mundur atau maju 1-2 hari karena pergeserannya relatif sedikit
yaitu sekitar 1/6 derajat setiap hari.

Dari:
Web Pak Toha-JAC

Sumber lain:
Web Pak Fery-ITB

May 1, 2007

Mihada=Ayunan

Filed under: Artikel

adalah AYUNAN…?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Allah SWT berfirman dalam :
1. QS. 78. An-Naba’ / ٧٨ النبأ ayat ke-6:

” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ?,”.

2. QS. 20. Thaahaa / ٢٠ طه ayat ke-53:

” Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. ”

Dari dua ayat ini kita memahami bahwa arti kata “mihaadaa” pada ayat ke-6 surat An-Nabaa dan kata “mahdan” pada ayat ke-53 surat Thooha,mestinya serupa. Dan di sana kita mendapatkan hal yang benar adanya yakni Tafsir Depag mengatakan bahwa “mahdan” dan “mihaadaa” adalah ‘hamparan’.

Saya hanya teringat ketika belajar mahfudlot, di sana diajarkan dan disuruh menghafalkan, makanya saya hafal sampai sekarang. Bunyi mahfudlot itu begini: “Uthlubil Ilma minal Mahdi Ilaa ‘lLahdi.” Artinya “Tuntulah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Bahkan ini juga hadits. Tetapi bukan hadits atau mahfudlot masalahnya, namun kata “Mihaadaa” itu sebenarnya apa..?

Di kitab suci al-Qur’an cetakan manapun kita akan mendapatkan bahwa “Mihaadaa” adalah hamparan. Namun saya berkeyakinan sedikit lain. Menurut saya “mihaadaa” adalah yaa seperti di mahfudlot tadi, yakni “buaian”.

Apakah “BUAIAN” itu..?

Berdasar mahfudlot di atas, maka BUAIAN yang dimaksud adalah masa kanak-kanak atau masa bayi. Kita diwajibkan menuntut ilmu dari bayi/lahir sampai liang lahat atau sampai meninggal. Belajar seumur hidup. Long Live Education….

Jadi kata “MIHAADAA” berarti “BUAIAN” atau “AYUNAN”.

Lalu BUAIAN yang seperti apa..? Bumi yang membuai…atau dibuai…maksudnya bagaimana?

Bumi sebenarnya telah lama semenjak diciptakan oleh Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta ini juga telah dibuai. Bukankah bumi kita ini yang setiap hari bergerak sangat cepat sekitar 1600 km/jam juga bergerak ke kiri dan ke kanan?

Gerakan inilah yang mengakibatkan posisi matahari terbit dan tenggelam kita lihat bergeser ke utara dan ke selatan setiap tahunnya.

Jadi firman Allah dalam QS. 78:6-” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai HAMPARAN ?,” mestinya bisa kita pahami sebagai ” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai BUAIAN ?,”. Begitu juga QS.20:53.

Pada setiap tanggal 21 Juni, matahari akan berada di garis balik utara yakni lintang 23.5° utara khatulistiwa. Matahari sepanjang tahun mengalami pergeseran ke utara dan ke selatan, yakni pada:
1. tanggal 21 Maret, tepat beredar di khatulistiwa. Matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
2. tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° utara.
3. tanggal 23 September, tepat berada di khatulistiwa lagi, matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
4. tanggal 22 Desember, tepat berada di lintas 23.5° selatan..

Pergeseran matahari seperti ini, merupakan akibat bumi berevolusi mengelilingi matahari dan sumbu rotasinya membentuk sudut 66.5° terhadap bidang ekliptika dengan kemiringan tetap.

Dalam QS. (51) Adz-Dzariyaat / ٥١ الذاريات ayat ke - 48 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan bumi itu Kami beri dian medan (gravitasi), maka sebaik-baik yang menggoyang (buai/ayun)kan (adalah Kami).”

Demikian MIHAADA….Wa Allahu a’lamu…[pakar].

April 30, 2007

Rubu’ al Mujayyab

Filed under: Artikel

Khazanah Ummat Islam amatlah banyak. Salah satunya adalah alat astronomi yang satu ini: Rubu’ Al-Mujayyab. Sebuah alat yang berbentuk seperempat lingkaran. Rubu’ artinya Seper Empat.

April 28, 2007

Hilal

Filed under: Artikel

Hilal adalah…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer