CASA | Club Astronomi Santri Assalaam

October 1, 2007

New CASA Blog

Filed under: Laporan

Selanjutnya CASA | Club Astronomi Santri Assalaam sepenuhnya dapat di akses di Blog CASA.

September 13, 2007

GBT 28 Ogos 2007

Filed under: Laporan

 

Gerhana Bulan Total (GBT) kembali terjadi pada tanggal 28 Agustus 2007. Menurut kalender astronomi NASA gerhana bulan total kali ini merupakan gerhana seri Saros ke 128 anggota ke 40 dari 71 gerhana yang terjadi serta akhir rangkaian musim gerhana di tahun 2007. Saros adalah masa perulangan rangkaian gerhana selama periode sekitar 18 tahun.

 

Gerhana bulan total kali ini dapat disaksikan setelah matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia. Posisi gerhana kali ini juga sangat menguntungkan untuk disaksikan sebab terjadi pada sore hari dan pada musim kemarau. Ini berbeda dengan peristiwa serupa yang terjadi pada 3 Maret 2007 lalu dimana gerhana bulan terjadi pada pagi hari saat tiba musim hujan.

 

 

 Kecuali Indonesia gerhana juga dapat disaksikan di negara-negara lain. Namun di Timur Tengah dan Afrika seluruh rangkaian gerhana tidak dapat disaksikan karena saat gerhana berlangsung negara ini masih mengalami siang hari. Di benua Amerika gerhana ini dapat disaksikan menjelang pagi. .

 

 

Tahapan Gerhana Bulan Total (GBT) 28 Agustus 2007

Penumbra Mulai (P1) = 14:54 WIB (tidak tampak)
Umbra Mulai (U1) = 15:51 WIB (tidak tampak)
Total Mulai (T1) = 16:52 WIB (tidak tampak)
Bulan Terbit (Moonrise) = 17:36 WIB

Puncak Gerhana = 17:37 WIB
Total Berakhir (T2) = 18:22 WIB
Umbra Berakhir (U2) = 19:24 WIB
Penumbra Berakhir (P2) = 20:21 WIB

( Sumber : SNP)

Terjadinya Gerhana Bulan

Gerhana Bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan wajah bulan yang dalam fase purnama tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

Dengan penjelasan lain, gerhana bulan terjadi bila bulan sedang beroposisi atau bertolak belakang dengan matahari. Tetapi akibat bidang orbit bulan miring terhadap bidang orbit semu matahari (ekliptika), maka tidak setiap oposisi bulan dengan matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan. Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan 2 buah titik potong yang disebut titik node, yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana bulan ini akan terjadi saat bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan waktu sekitar 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka biasanya, jika terjadi gerhana bulan maka akan diikuti dengan gerhana matahari karena kedua titik node tersebut terletak pada garis yang menghubungkan antara matahari dengan bumi.

 

Pada saat peristiwa gerhana bulan total terjadi, seringkali permukaan bulan tidak gelap total dan masih samar-samar dapat terlihat berwarna gelap kemerahan. Ini dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dipantulkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga, jingga, ataupun coklat.

 

Gerhana bulan dapat diamati langsung dengan mata telanjang dan tidak berbahaya sama sekali. Namun demikian akan lebih indah jika ada binokuler atau "keker" atau bahkan teleskop untuk melihatnya lebih dekat sehingga nampak jelas batas antara daerah gelap dan terang di permukaan bulan.

 

Di kalangan Umat Islam peristiwa gerhana merupakan peristiwa alam biasa yang secara astronomis dapat dihitung kapan peristiwanya akan terjadi. Peristiwa gerhana bukan tanda kelahiran atau kematian seseorang namun gerhana merupakan momen merenungkan kembali tanda kemahabesaran Allah SWT, penguasa dan pemelihara langit yang tak pernah lena. Untuk itu Umat Islam memberi makna akan kehadiran gerhana melalui ibadah berupa shalat gerhana atau shalat khusuf yang dilakukan secara sendirian maupun berjamaah di masjid-masjid atau mushalla serta memperbanyak takbir dan sedekah. [cara shalat gerhana]

.”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua macam tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukan karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka jikalau kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bershalatlah.”

( HR. Bukhari - Muslim )

 

 

 

Sumber :

Starrynight Software , NASA , Wikipedia , JAC

Sholat Khusuf:

gbt2880718-16.jpg

JUMHUR Ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari adalah sunnah dan dilakukan secara berjamaah. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang tata cara pelaksanaanya, bacaan, waktu dan apakah khotbah merupakan syarat ataukah tidak. Juga apakah gerhana bulan memiliki hukum yang sama dengan gerhana matahari.

Dari A’isyah ra berkata: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama khalayak. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul.
(Muttafaq alaih. HR Bukhori-1212 dan 4624, Muslim 901, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah.)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah, maka apabila kalian melihat gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, lalu sholatlah sehingga hilang dari kalian gelap, dan bersedekahlah”. (HR. Bukhori-Muslim)

Melihat dhohirnya hadits di atas, maka sholat khusuf (Gerhana Bulan) juga sunnah dan dilaksanakan sabagaimana sholat kusuf (gerhana matahari).

Di PPMI Assalaam seluruh santri melakukan sholat khusuf (Gerhana Bulan) di masjid Assalaam dengan Imam dan khotib, ustadz budi Prasetyo, S.Ag. Cuaca cukup cerah sehingga pemandangan bulan yang mulainampak bagian bawahnya sangat jelas terlihat. (maaf, foto karya anak2 di atas gerak shg kurang fokus).

sholat khusuf

sholat khusuf di masjid Assalaam

 Sholat dimulai selepas sholat maghrib, dan setelah sholat khusuf dilanjut dengan khotbah gerhana. Dalam khotbahnya ustadz Budi menyampaikan pesan, bahwa Gerhana adalah kejadian alami dan biasa serta selalu diulang di alam ini. Allah maha menentukan apapun, kalau memang cahaya bulanmau dihilangkan sekalipun, cahaya matahari dihilangkan sejalipun, Allah pasti mamapu.
Gerhana tidak ada kaitannya dengan mati atau hidupnya seseorang. Juga tidak boleh dikait-kaitkan dengan banyaknya musibah di Indonesia atau apapun namanya. Justru yang penting, kita wajib mengimani bahwa Allah telah ciptakan sebegitu banyak bintang dan benda langit lainyya. Bersyukurlah, bertobatlah, dan banyaklah berbuat baik di alam ini…karena tidak satupun benda di angkasa yang menentang kehendak Allah SWT.
Usai sholat khusuf, selanjutnya para santri disuguhi tontonan alam semesta live GBT dalam bentuk layar raksasa. Melalui visualisasi komputer, proses terjadinya gerhana bisa dimundurkan dan dimajukan.

 

Acara bertajuk "Bringing Astronomi to The Student" yang mengupas perjalan bulan hingga terjadi Gerhana baik sebagian maupun total berakhir saat dikumandangkannya adzan Isyaa. Selepas sholat Isyaa, mereka melihat langsung pemandangan GBT di alam sembari pulangke kamar.

 

Di depan Gelora, sekitar jam 19:24 WIB pemandangan GBT sudah mulai tampak sangatterang kendati belum semua muka bulan tampak sempurna.

 Malam itu pula acara rutin di PPMI Assalaam adalah pengajian rutin pegawai. Malam ini pembicara adlah Ustadz Sobari, pakar Falak Muhammadiyah Solo. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa Gerhana di era dulu, dijadikan tradisi yang membuat ilmu mati. Sebagai misal, bagi ibu hamil, makak bila ada Gerhana, dia harus mandi lalu menginjak abu, lalu masuk ke bawah kolong tempat tidur. Aneh…. itu jaman dulu.

 

Di tempat terpisah, teman JAC, Corona, CASAC dan MUGADETA melakukan sholat gerhana di top floor Shapir Hotel Yogyakarta yang dilanjutkan observasi.

Ada beberapa hal menyangkut sholat gerhana, antara lain sebagai berikut:

1. Tata cara sholat:
Maliki, Syafi’i dan Ahmad serta mayoritas penduduk Hijaz berpendapat bahwa sholat gerhana dengan dua rokaat dengan dua kali ruku’. Sedang Abu Hanifah dan penduduk kufah, menyatakan seperti sholat Id dan Jum’at.

Dalil:
Dari A’isyah ra berkata: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama khalayak. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul.
(Muttafaq alaih. HR Bukhori-1212 dan 4624, Muslim 901, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dalam hadits lain juga oleh Ibnu Abbas, dengan muatan matan serupa, yakni dua rokaat dengan dua kali ruku’. Abu Umar berkata ini hadits gerhana paling shahih.

2. Bacaan :
Malik dan Syafi’i berpendapat pelan, sementaraa Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan dan Ishak bin Rahawaih berpendapat keras. Berdasar hadits di atas maka bacaan sholat gerhana itu keras atau jahr.

Di era digital, seperti sekarang ini, kita akhirnya memahami pula mengapa sholat gerhana memiliki kekhususan ketimbang sholat wajib dan umumnya sholat sunnah lainnya. Keistimewaan tersebut dalah terletak pada bilangan ruku’ pada setiap roka’atnya. Seperti yang kita tahu, dua kali ruku’ di setiap roka’at, adalah serasa aneh. Apalagi sunnahnya harus…lama…sehingga bacaan tasbihnya mestilah panjang dan berulang-ulang.

Inilah salah satu mukjizat kebenaran Islam. Salah satu sifat wajib Rasul adalah ‘Fatonah’. Fatonah artinya Rasulullah SAW harus memiliki kecerdasan, bahasa kita sekarang ‘jenius’ lah. Lalu dimana letak kejeniusan Rasulullah SAW..? Ya…salah satunya di tata cara sholat gerhana ini. Beliau ajarkan sholat khusuf dengan dua kali ruku’ per roakaat dan beliau juga ajarkan ruku’nya yang lama. Ruku’ lama artinya membaca tasbih berulang-ulang.

rukuu

1. Ruku’ dua kali per rokaat:

Perhatikan gambar di atas. Orang ruku’ artinya sedang membentuk sudut siku. Dalam matematika, sudut siku besarnya adalah 90 derajat. Arti dari ruku’ dua kali adalah, 90 derajat x 2 = 180 derajat. Arti dari 180 derajat adalah, saling segaris lurus. Jadi bukankah saat terjadinya fenomena gerhana, baik matahari maupun bulan, kesemuanya saling segaris lurus.

Pada Gerhana Matahari, posisi bulan di tengah-tengah, antara matahari dan bumi.

skema gerhana matahari

Pada saat Gerhana Bulan, posisi bumi berada di tengah-tengah, antara matahari dan bulan.

skema gerhana bulan

2. Membaca Tasbih berulang-ulang (banyak).

Tasbih berasal dari kata dasar sabaha artinya berenang. Tasbih berarti gerak yang dinamis. Hakekat dari seluruh materi di alam semesta ini adalah bergerak, ber-rotasi dan ber-revolusi. Salah tiga dari materi alam semesta adalah Matahari, Bumi dan Rembulan. Rembulan atau Bulan ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Bumi. Bumi ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Matahari. Matahari ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Black Hole di pusat Bimasakti. Dan begitu seterusnya.

galaksi bimasakti

Ternyata memang sifat wajib rasul tak sekedar jadi hafalan anak-anak sekolah, namun itulah mukjizat…

“Wamaa yantiqu ‘anil hawaa…in huwa illa wahyun yuuhaa…”. QS. An-Najm (53):3-4.[+]

August 16, 2007

Hilal Sya’ban 1428 H

Filed under: Laporan

CASA melakukan observasi Hilal Sya’ban 1428 H. CASA Putra di masjid lantai 2 sementara CASA Putri di lapangan kompleks barat. Bersyukur karena Hilal 2 Sya’ban ini saat maghrib setinggi 15 derajat. Awalnya, hanya terlihat oleh anak yang peka pandangannya. Cukup dengan mata telanjang, hilal saat itu tampak segaris-putih.

Maka begitu agak petang, semakin jelaslah penampakan Hilal kali ini. Sebuah pengalaman yang pertama bagi anak2 CASA melihat hilal tgl 2 bulan sya’ban kali ini.

Hilal 1 Sya’ban memang sulit terlihat bahkan mustahil, karena ketinggian di bawah limit Danjon. Dan rekan2 JAC di Parangkusumo sekalipun juga gagal melihatnya di awal Sya’ban ini.

Selanjutnya persiapan yang penting untuk kita lakukan di bulan Sya’ban ini di antaranya adalah pendalaman ilmu tentang ibadah diseputar Ramadhan, persiapan mental dan tekad, persiapan fisik dan kesehatan, serta persiapan ruhiyah dan spiritual dengan melakukan berbagai ibadah sunah. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan,

وَلَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَان قَال: ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فيه الأَعْمَالُ إلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ (رواه أحمد وأبو داود وابن حزيمة والنسائى )

Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban”. Rasul saw bersabda: ”Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)

"Allaahumma baariklanaa fi Sya’ban wa ballighnaa Ramadhana"

Ya Rabb, berkahi kami pada bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan, ..Amien3x.

June 22, 2007

Garis Balik Utara

Filed under: Artikel, Laporan

Kemarin tepat tgl 21 Juni 2007, matahari tepat berada di garis balik utara (GBU) yakni garis lintang utara pada titik 23.5°. Matahari akan kembali bergerak menuju ke tengah lalu ke salatan. Dan setelah itu kembali ke semula….terus menerus sampai hari kiamat.

Tetapi pergerakan ini sebenarnya menurut pengamatan kita di bumi saja, sebab yang terjadi menurut ilmu astronomi, justru bumi ini lah yang bergerak. Gerakan bumi ini mengakibatkan posisi matahari yang terlihat dari bumi seolah bergeser utara-selatan terus-menerus. Gerakan bumi ini karena efek dari medan gravitasi antar kutub bumi dan matahari. Gerak ini juga akibat gerak revolusi bumi mengelilingi matahari. Revolusi bumi mengakibatkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Gerak semu matahari.

Karena sebab bumi mengelilingi matahari (revolusi bumi), maka matahari seakan-akan bergerak mengelilingi bumi. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Dalam peredaran semu tersebut matahari memerlukan waktu satu tahun untuk menyelesaikan satu putara penuh dan lintasan matahari yang dilalui disebut ekliptika.

2. Pergeseran matahari antara GBU dan GBS.

Matahari sepanjang tahun mengalami pergeseran ke utara dan ke selatan, yakni pada:
a. tanggal 21 Maret, tepat beredar di khatulistiwa. Matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
b. tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU.
c. tanggal 23 September, tepat berada di khatulistiwa lagi, matahari terbit dan terbenam tepat di titik timur dan barat.
d. tanggal 22 Desember, tepat berada di lintas 23.5° LS.

Pergeseran matahari seperti ini, merupakan akibat bumi berevolusi mengelilingi matahari dan sumbu rotasinya membentuk sudut 47° terhadap bidang ekliptika dengan kemiringan tetap.

Bila kita pandang dari arah atas kepala kita (yg tinggal di indonesai) saat matahari terbit atau terbenam, seolah matahari yang sangat besar itu mendorong bumi yang kecil ke utara lalu ke selatan terus-menerus sebagai akibat perbedaan polar magnetik kedua benda angakasa itu.

3. Perubahan lama siang dan malam.

4. Pergantian musim.

Wa Allahu a’lamu…[pakar]

June 18, 2007

Hilal Baru hari ke-2

Filed under: Laporan

Kapan melihat HILAL BARU Jumadil Tsaniyah 1428 H…?
Semestinya, hari Pertama melihat hilal baru bulan Jumadil Akhirah/Tsaniyah 1428 H ini pada Jum’at 15 Juni 2007, karena konjungsi terjadi pada Jum’at 15 Juni 2007 jamt 03:13 UT, atau sekitar 09.13 WIB.

Namun karena altitude Hilal saat Sunset tidak lebih dari 2°, maka tidak mungkin hilal baru akan tampak pada hari Jum’at sore (maghrib) dilihat dari Indonesia seluruhnya. Visibilitas Hilal Jumadil Tsaniyah 1428 H.

Akhirnya, saya berniat melihatnya di hari Sabtu karena sangat mungkin walau dengan mata telanjang. Semula ragu mau melihatnya di hari Sabtu 16 Juni 2007 karena sekilas langit di harizon barat agak mendung. Nah, ini kebetulan yang membawa kebahagiaan…Saat mau pulang ke Klaten, saya mampir di Markaz ‘Benteng Takeshi’ kompleks barat PPMI Assalaam atau yang oleh kebanyakan teman dikenal sebagai kompleks ATC…menjelang kamar transit…Subhanallah……

Hilal itu tampak sangat jelas…dan saya pun bersyukur….baru kali ini melihat hilal sejelas ini:

Kalau temen di JAC berhasil merekan Hilal hari ke-2 ini di Parangkusumo, seperti alasan Pak Toha “Dipilihnya hari kedua pasca ijtimak/konjungsi karena beberapa pertimbangan diantaranya separoh lebih anggota yang ikut adalah newbie yang baru pertama kali mengikuti kegiatan rukyat”.

Ternyata sama kesan saya, bahwa harapannya hilal akan terlihat dengan jelas karena sesuai hisab/perhitungan secara astronomis iluminasi bulan sudah mencapai 2% dengan tinggi hilal saat sunset sudah mencapai 14° sehingga mudah dilihat.

Selama hampir 15 menit saya tidak beranjak dari lokasi yang mendadak saya temukan…ya, di lapangan sepak bola PPMI Assalaam kompleks barat. Semoga Allah mengampuni saya, karena di Masjid ada sholat maghrib berjama’ah, saya malah asyik merekam Hilal. Dengan modal sebuah DSLR Digital Camera dan jok motor sebagai gantinya Tripod, akhirnya HILAL BARU ini berhasil kuabadikan.

Pemandangan ke arah horizon barat menjadi sangat indah karena dua buah gunung besar yakni Merapi dan Merbabu menampakkan rona silhuetnya. Posisi hilal kebetulan tidak di jam 12 melainkan sekitar jam 2, sehingga sampai elongasi terkecilpun saya masih sempat melihat, merekam bahkan ‘menggenggam’nya.

Sekali lagi aku bersyukur…dan setelah lega aku akhirnya…masuk kamar…lalu mandi dan sholat maghrib, terus mudik ke Klaten…(ada kondangan, hehehe).

Inilah HILAL BARU hari ke-2 untuk bulan Jumadil Tsaniyah 1428 H. Citra saya ambil dengan Canon EOS Digital N series ISO 400, AWB, f/5.6, AV/8″.

see you ….and thank’s for your visiting. [pakar]

Rekomendasi Konferensi Astronomi di Abu Dhabi

Filed under: Laporan

Under the patronage of His Highness Sheikh Mansour Bin Zayed Al Nahyan, minister of presidential affairs, the Emirates Astronomical Society (EAS), the Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP), and the Center for Documentation and Research (CDR) organized an astronomical conference on “Applications of Astronomical Calculations” in Abu Dhabi on 13-14 December 2006 (22-23 Dhul Keadah 1427 AH). The participants, who numbered over 100 from 26 countries (Algeria, Australia, Egypt, France, Germany, Great Britain, Holland, Indonesia, Iran, Iraq, Jordan, KSA, Kuwait, Libya, Malaysia, Morocco, Norway, Oman, Palestine, Qatar, Singapore, Syria, Tunisia, UAE, Yemen, and USA), exalted the conference for its high scientific level and adopted the following recommendations:

1. Set up a committee to evaluate the conference from all aspects and make recommendations for the next conference.

2. Consider this conference as the first in a series of “Emirates Astronomical Conferences” and organize similar ones every two years.

3. Adopt an Islamic Calendar based on crescent visibility calculations and strive to make it as widely acceptable as possible.

4. Reject all testimonies of crescent observations that claim to break the well known records (Moon age, lag time, and particularly the Danjon limit) unless and until they are confirmed and accepted by the astronomical expert community.

5. Include astronomers with expertise in crescent visibility in the official committees that determine the beginning of Hejric months.

6. Continue and strengthen the studies of prayer times and publicize these studies.

7. Start the study for the creation of a UAE national observatory for astronomical research.

8. Introduce chapters and modules on applied astronomy in the educational curricula.

9. Introduce regular newspaper and magazine columns and TV programs on Astronomy in place of Astrology, and publish Moonrise and Moonset times in the newspapers.

10. Publish the proceedings book with high scientific standards at the earliest and distribute to libraries so as to make it a prime reference on the subject for all researchers.

11. Publish a summary article about the conference in newspapers and magazines.

12. Post the main recommendations and results of this first conference on the ICOP’s website and on partner websites.

Recommendations Related to the Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP)

1. On the other hand, the participants discussed ICOP’s future and adopted the following recommendations:-

2. Set up an Executive Committee with clear prerogatives.

3. Establish new committees in ICOP, with a specific mandate and detailed agenda for each committee:
Scientific committee.
Educational committee.
Media committee.
Committee to finalize the new general objectives and future program of ICOP.

4. Publish an annual report for ICOP, with report sections for each committee.

5. Publish an annual report on the “State of Astronomy in the Muslim World”, with figures and information to be published in the media.

6. Develop the ICOP website to be pluri-lingual, particularly in the Arabic language.

7. Strengthen the scientific and educational activities of the project.

8. Strive to reach wider audiences, especially those with influence within society: officials, religious authorities, educators.

9. Organize local and regional workshops to train amateurs, educators and students on astronomical applications in Islam (crescent sighting, calendars, prayer times, Qiblah Direction).

10. Strengthen media activity and outreach on astronomical applications in Islam.

11. Recommend and encourage crescent sightings by groups and include astronomers whenever possible in order to reduce false crescent sightings.

12. Raise the knowledge content (articles, etc.) of the ICOP website so as to make it the prime reference on the subject for researchers everywhere.

From:
ICO Project.

June 16, 2007

Sabit Tua Jumadil Ula 1428 H

Filed under: Artikel, Laporan

Mau pake hisab atau rukyat? Pertanyaan jenis ini sering muncul ketika mengulas penanggalan Hijriyyah, terutama menyangkut penentuan awal Ramadhan, awal Syawwal (Idul Fitri) dan awal
Dzulhijjah (yang menjadi patokan bagi Idul Adha).

Dalam realitanya publik memang ‘terbelah’ dalam menyikapi penanggalan Hijriyyah ke dalam dua kutub : hisab dan rukyat, yang seakan-akan saling berhadapan secara diametral dan tidak bisa dicari titik temunya. ” Akan terus berbeda sampai hari Akhir, ” begitu gurauan pak Najib, sahabat saya yang hakim agama dan hampir tiap tahun puyeng ditanya-tanya soal ini.

Kepuyengan semacam ini tentunya tak perlu terjadi jika saja kita mengetahui antara hisab dan rukyat sebenarnya adalah dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Bahwa persoalan sebenarnya terletak pada definisi kita tentang “hilaal”. Dan jika definisi hilaal ini sudah tercapai titik temunya, maka hisab dan rukyat akan memberikan hasil yang sama. Ini bisa dianalogikan dengan menentukan waktu shalat dhuhur, misalnya. Karena definisi untuk awal shalat dhuhur sudah disepakati, yakni saat transitnya Matahari di meridian setempat (atau dengan bahasa sederhana, jika bayang-bayang tongkat lurus yang disinari cahaya Matahari tepat sejajar dengan arah utara-selatan sejati), maka baik menentukan waktu dhuhur dengan bayangan Matahari maupun murni berdasarkan tabulasi jadwal shalat, hasilnya sama saja. Mengapa bisa demikian? Ya karena astronomi adalah cabang ilmu dengan tingkat akurasi yang demikian tinggi khususnya ketika menelaah pergerakan Matahari dan Bulan.

Belum adanya definisi bersama tentang hilaal lebih disebabkan oleh kurangnya data. Jika Matahari hampir setiap hari bisa diamati, maka Bulan (khususnya pada fase sangat kecil seperti hilaal) hanya muncul pada waktu-waktu tertentu. Selama ini, di Indonesia, observasi hilaal hanya dilakukan maksimum 4 kali oleh para pengamat (1 waktu tambahan pada saat menentukan awal Muharram). Jumlah yang kurang ini masih ditambah dengan bias-nya kesimpulan terhadap hasil observasi,
dimana pengamat belum bisa membedakan apakah yang diamatinya benar-benar merupakan hilaal ataukah sumber cahaya lain baik di latar belakang (seperti Merkurius, Venus dan beberapa bintang terang) maupun latar depan (pantulan cahaya Matahari di awan, lampu mercusuar,
lampu kapal dll).

Peredaran Bulan mengelilingi Bumi membuat fase (baca : wajah) Bulan bersifat siklik, sehingga Bulan dengan fase sangat kecil selalu muncul pada dua kesempatan yang berbeda : beberapa belas jam setelah konjungsi (dikenal dengan sabit muda/hilaal) dan beberapa belas jam sebelum konjungsi (dikenal dengan istilah sabit tua). Karena dalam setahun Hijriyyah terdapat dua
belas lunasi, maka dalam setahun Hijriyyah terdapat 2 x 12 = 24 kesempatan untuk mengobservasi Bulan dalam fase sebagai hilaal ataupun sabit tua, sehingga data akan visibilitas hilaal/sabit tua bisa bertambah.

Dalam konteks tersebut, kami melakukan observasi sabit tua yang menandai akhir lunasi Jumadil Ula 1428 H, mengambil lokasi di Kompleks Islamic Centre Kebumen (7deg 40min LS 109deg 38min BT, 21 m dpl) menjelang fajar 14 Juni 2007. Tanggal ini dipilih karena pada fajar 15 Juni 2007 (tanggal terjadinya konjungsi), tinggi Bulan dan Matahari hampir sama sehingga secara teknis tidak mungkin saat itu sabit tua bisa diamati. Dari titik pengamatan, sabit tua diestimasikan muncul di lokasi Bukit Wonokromo, salah satu horst dari patahan Kedungbener sehingga secara teknis sabit tua baru bisa diamati jika ketinggiannya melebihi 3 derajat.

Observasi dilakukan dengan mata telanjang. Beberapa citra diambil dengan digicam DSC U-20 2 megapixel tanpa zoom. Sebagai petunjuk waktu dipakai internal clock ponsel Siemens C-45 yang telah dikalibrasi dengan 103-nya Telkom. Alat bantu lain yang digunakan adalah tabel tinggi Bulan vs waktu lokal (dalam WIB) yang diderivasikan dari MoonCalc v4.0 yang diset toposentrik, mengabaikan refraksi atmosfer dan kondisi sunrise/sunset geometrik. Lewat MoonCalc v4.0 juga
diketahui saat Matahari terbit (05:54 WIB) Bulan memiliki elemen : tinggi=14,38 derajat; azimuth=59,95 derajat (azimuth relatif= -6,63 derajat terhadap Matahari); elongasi=15,97 derajat; magnitude visual= -5,66; fase=2,2 %; lebar sabit=0,6 menit busur dan umur Bulan 28,3 jam sebelum konjungsi. Umur sabit (yakni waktu terbit Bulan dikurangi waktu terbit Matahari) adalah 70 menit. Sehingga dengan formula “best time” Yallop, sabit tua ini akan nampak sampai pukul 05:23 WIB.

Meski bulan Juni 2007 tergolong dalam musim kemarau, saat pengamatan ternyata lebih dari separuh langit timur tertutupi awan Cumulus yang secara perlahan bergerak ke utara. Namun di atas Bukit Wonokromo langit sempat relatif lebih bersih untuk beberapa saat. Ketika tiba di lokasi pengamatan (pukul 05:05 WIB) sabit tua sudah terlihat ‘mengapung’ di atas Bukit Wonokromo dengan cahaya cukup samar, dan lebih ke atas lagi nampak Mars yang kemerahan dan lebih
samar lagi. Selain sabit tua dan Mars, tidak ada lagi benda langit lain yang nampak. MoonCalc v4.0
menunjukkan saat itu tinggi sabit tua adalah 4 derajat.

Sabit tua hanya nampak sebagai goresan tipis dengan cahaya yang pucat tanpa bentuk lengkungan sabitnya yang khas. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tebalnya awan di latar depan sabit tua. Jika tidak dilihat dengan cermat, sabit tua saat itu tidak berbeda dengan bintang. Namun peta langit timur dari Starry Night Backyard v3.1 menunjukkan di sekitar sabit tua hanya ada alpha Tauri (Aldebaran) dan alpha Persei (Mirfak). Berdasar Steve Moshier’s Ephemeris Program v5.6, tinggi alpha Tauri (magnitude visual +0,8) adalah 1,4 derajat dan secara teknis masih tertutupi Bukit Wonokromo. Sementara alpha Persei memiliki tinggi 7,5 derajat namun dengan magnitude
visual +1,8 (2,5 kali lebih gelap dibanding alpha Tauri dan 965 kali lebih gelap dari sabit tua), dengan analogi pengalaman pengamatan kami terhadap Sirius, maka pada kondisi awan saat itu tidak mungkin alpha Tauri terlihat mata telanjang.

Sabit tua hanya nampak hingga pukul 05:09 WIB, ketika awan Cumulus mulai berarak menutupinya. Hingga pukul 05:54 kondisi tidak berubah. Kondisi ketika sabit tua terakhir terlihat masih gelap, sehingga citra sabit tua tidak tertangkap oleh digicam. [Ma’rufin S]

April 21, 2007

Hilal R. Akhir 1428 H

Filed under: Laporan

Dengan alat sederhana, jam dalam HP dan Binokuler serta data matahari dan bulan untuk tgl 18 April 2007 dari SNP 5.8.2. (pasti ditambah sepasang teleskop paling canggih dunia akhirat made in ALLAH);

Saya mengamati hilal yang menjadi tanda masuknya bulan Rabi’ul Akhir 1428 H di Klaten (7deg 40min LS
110deg 45min BT, timezone = GMT + 7, ketinggian rata-rata 330 feet di atas permukaa laut) pada 18 April 2007 waktu maghrib, tepatnya dari arean persawahan desa Bendo Ketitang Juwiring Klaten.

Sebagai petunjuk waktu digunakan ponsel Nokia CDMA yang terkalibrasi. Selanjutnya, data SNP 5.8.2, matahari terbenam pukul 17:34 WIB, dengan tinggi bulan = 7 derajat, selisih azimuth 10 derajat (di utara titik terbenamnya matahari), fase 1 %, magnitude visual -12,4, diameter cakram Bulan 33 menit busur, umur Bulan 1.12 hari pasca konjungsi dan selisih antara terbenamnya Matahari dan Bulan adalah 39 menit.

Tidak Tampak

Sekilas pandang nampak bahwa pengamatan amatlah mudah dilakukan. Langit barat Klaten sebagian bahkan seluruhnya tertutup awan hujan, hanya sebagian sedikit ke arah selatan, terlihat awan merah remang-remang. Sampai pukul 18:13 WIB, ketika Bulan tenggelam, keadaan tidak berubah. Yaa, saya belom berhasil melihat.

Secara teoritis hilal pada saat itu sebenarnya amat mungkin dilihat, mengingat altitude diatas 7 derajat alias memenuhi Danjon limit. Pengamatan tidak mungkin dilakukan mengingat, kondisi alam yang memang sangat gelap akibat awan mendung menjelang hujan…hujan cukup deras mestinya. Sudah sepekan ini kawasan karesidenan surakarta dilanda hujan hampir tiap sore dan dilanjut malam.

Berdasar kriteria apapun, maka kondisi hilal yang seperti ini-walau saya sendiri dan juga siapa saja yang se wilayah tidak bisa melihatnya, tetap tanggal 1 Rabi’ul Akhir 1428 H jatuh pada tanggal 19 April 2007.

WasSalam






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer